Kelembutan Yang Syumul

Kelembutan. Itulah ssuatu sifat, yang oleh banyak orang sangat diimpikannya. Tidak mesti pada dirinya sendiri, tetapi sering merindukan sifat itu pada orang lain disekitarnya. Seperti seorang pekerja mengharap secebis kelembutan daripada majikannya, apath lagi di saat ia berada di posisi “pesalah” terhadp hal-ehwal kerjanya. Atau, seorang suami mendambakan kelembutan sang isterinya, di saat-saat sukar lagi sulit yang mengkusut-masaikan relung pemikirannya. Atau, seorang ibu seorang ayah, yang menginginkan kelmbutan layanan daripada anaknya, saat keduanya sudah menginjka usia-usia emas yang berharga.

 

Tidak hairanlah, kelembutan, pada apa pun maknanya, baik itu Rahmah, atau Rifq, atau Hilm, di sebut-sebut sebagai antara sifat para pendakwah oleh Jum’ah Amin Abdul Aziz. Lantaran menyedari betapa lawan kepada kelembutan, kekerasan dan penekanan, bisa menyebabkan manusia lari dari sekelilingmu.

 

“Maka dek kerana rahmat ALLAH, bersikap lemah lembutlah kamu kepada mereka. Jika kamu bersikap kasar lagi berhati keras, nescaya mereka akan menjauhkan diri daripada mu…”

(Surah Ali Imran [3]:159)

Di situlah kalian jumpa kelembutan seorang rasulullah. Sensitiviti seorang Abu Bakr. Malunya seorang Usman al-affan.

 

Di sanalah, pada kelembutan yang menatijahkan sebuah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) pada pelakunya, kalian jumpa seorang Umar al-Khatttab di waktu kekhilafahannya, hingga sering didapati menangis lantaran zuhud dalam menilai dirinya.

 

Atau, kelembutan para tok-guru-tok-guru, yang senantiasa kaya dengan senyuman teduh di wajahnya, hingga bisa meresap masuk ke dalam umat, lalu menadah kitab berhadapan sebagai murid-muridnya.

 

Namun, kelembutan itu tetap pada tempatnya. Ia seakan strategi defensive yang ampuh untuk menarik minat manusia ke arahnya. Namun, sifat offensive tetap perlu guna mengimbangi sekaligus mempertahankan risalah suci ini daripada musuhnya.

 

Maka ada cerita dakwah Rasulullah secara bergusti dengan Abu Rukanah. Atau seorang Abu Bakar yang bercakap serba kasar dengan para petinggi Quraisy di saat perjanjian Hudhaibiyah. Atau ketegasan seorang Ali ketika mempertahankan kalimah ar-Rahman pada tulisan basmalah serta Rasulullah pada perkataan Muhammad.

 

Di sana, jihad menjadi senjata offensive di dalam dakwah, seperti mana kelembutan berperanan sebagai senjata defensive penarik mad’u ke dalam dakwah.

 

Maka seimbangkanlah kelembutan dan ketegasanmu wahai umat, seperti mana seimbangnya para pendahulu kita di arena dakwah.

 

“..mereka (hizbullah) mencintainya, mereka bersikap rendah diri terhadap orang mukmin, tetapi mempunyai harga diri yang tinggi di hadapan orang-orang Kafir…”

(Surah al-maidah [5]:54)

“Muhammad itu Rasulullah. Dan orang-orang yang beriman bersamanya bersikap keras terhadap orang kafir, tetapi saling mengasihi sesama mereka…”

(Surah al-Fath [48]:29)

[serial nikah]: Malang ibubapa hari ini

[serial nikah]: Malang ibubapa hari ini

Tidakkah kalian kasihan melihat mereka yang menjadi ibubapa hari ini. Serba-serbi salah. Serba-serbi tak betul. Masa tua mereka seakan kelam, dek kerana anak yang diasuh sejak di alam rahim, hingga beransur menginjak dewasa, tidak pandai menghargai diri, usaha dan perasaan insan-insan mulia ini.

Jika dulu, ibubapa mengimpikan anak yang terpelajar. Yang berpendidikan tinggi. Yang, semoga dengan ilmunya, ibu-ayah akan dimuliakan seperti seharusnya. Tetapi, ternyata panas yang diharapkan berkepanjangan, mendung tiba di pertengahan jalan. Fenomena anak kurang ajar, biadap, dan tidak beradab kepada ibubapa justeru tidak hanya dilakukan oleh anak-anak malas dan tidak berpendidikan, bahkan anak-anak terpelajar dan berpangkat tinggi pun bisa memarahi, menengking, dan memperlekehkan ibubapanya. Bahkan, sudah lebih daripada “uffin” yang dilarang oleh al-Quran (surah al-Isra’ [17]:23), menyangkut soal menjawab, memperlekeh sambil meninggikan suara kepada ibu-ayah mereka, hanya lantaran mereka merasa mereka lebih “tinggi”, lebih “mulia” daripada kedua insan yang banyak berjasa itu.

Lalu, trend impian orang tua bertukar kepada kecenderungan anak untuk beragama. Mereka menyangka, apabila anak-anak mereka mendekati agama, sejuk ibu mengandung itu, mudah-mudahan bisa menjadi saham pahala berterusan mereka di perkampungan abadi kelak, tatkala anak soleh mereka dengan jayanya tahu mendoakan kedua ibubapanya secara berpanjangan. Lantas tidak hairanlah sekolah-sekolah agama swasta, pusat-pusat tahfiz, dan yang sewaktu dengannya, menjadi pilihan ibubapa dewasa ini.

Namun, sekali lagi, sejuk ibu mengandung ternyata menjadi panas neraka selepas kira-kira suku abad kemudiannya. Anak-anak yang diharapkan membahagiakan diri dan perasaan ibubapa hasil dari pembentukan di dalam usrah, ceramah, atau sekolah dan pendidikan agama formal lainnya, bahkan berubah menjadi “aba wastakbar” (surah al-Baqarah [2]:34) lantaran merasa lebih mulia daripada mereka. Pada mereka (anak-anak), syeikh atau jemaah mereka adalah segalanya, bahkan melebihi nilai kemuliaan dan pengorbanan para ibubapa.

Tiba-tiba, pengajian mereka yang baru secumit cuma, seakan lebih berjasa berbanding pengabdian selamanya ibubapa untuk mengasuh dan mendidik mereka.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap kedua ibubapa dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah ; “Wahai Tuhanku, sayangilah/ rahmatilah keduanya seperti mana mereka mentarbiyyah aku sejak aku masih kecil”

(Surah al-Isra’ [17]:24)

Kesedaran shohwah islamiyah (kebangkitan islam) mereka, Alhamdulillah telah menyedarkan mereka kepentingan nikah. Cuma, sayangnya, dalam menyedari kepentingan nikah, mereka seakan terlupa pula kepentingan berkeluarga. Walhal, nikah itu memangnya untuk membentuk keluarga. Dan bagaimana mahu berkeluarga, andai ibubapa anda sudah anda abaikan?

Alasan ibubapa tidak memahami atau menghalang niat suci kalian, atas alasan “tiada fikrah”, justeru tidak menjadi alasan untuk anda mengabaikan atau mengenepikan mereka daripada urusan pernikahan. Bahkan sering terjadi, menghalangnya ibubapa terhadap niat sang aktivis dakwah itu untuk menikah, memang ada asas-asasnya, yang memberikan kesimpulan kepada kita akan betapa concernnya mereka terhadap masa hadapan anaknya. Misalnya sang anak belum habis belajar, sang anak kurang bertanggungjawab, sang anak kelihatannya kurang matang, biarpun ego sang anak sebagai aktivis melihat dirinya itu dari kaca mata sebaliknya.

Oh ibubapa hari ini, malang sungguh nasibmu. Ada anak jahat pun salah. Ada anak soleh pun salah. Bagaimana agaknya nasib aku dan isteri, di kemudian hari?

[serial nikah]: Kepentingan “Orang Tengah”

[serial nikah]: Kepentingan “Orang Tengah”

Bisakah anda bayangkan perlawanan bola sepak tanpa pengadil, atau mahkamah tanpa hakim, atau sekolah tanpa pengawas? Perlawanan bola sepak tetap bisa berlangsung, tetapi pergaduhan yang terletus, atau ketidak puas hatian yang membarah, atau keputusan yang dipertikai, adalah natijah perlawanan tanpa seseorang yang menjaga ruang pengadilan.

 

Begitu juga dengan mahkamah tanpa seorang hakim. Siapakah yang mahu mengawal aturan dan ketenteraman ruang pengadilan, terutamanya di saat suasana berbaur ketegangan? Dan siapa pula yang mahu menjaga kedamaian dan kenyamanan suasana sekolah, atau menenangkan rakan daripada meletuskan perbalahan, atau menjadikan perjalanan persekolahan serba teratur, andai tiada yang menjadi pengawas sekolah?

 

Begitulah lumrahnya. Individu sebegini penting justeru bukan sahaja sebagai “pemegang kuasa”, tetapi lebih kepada “pemegang suasana.” Mendamaikan di kala perbalahan. Menenangkan di  saat ketegangan. Mengaturkan di waktu kekusutan. Menyatukan di ketika hampir terjadi perpisahan. Atau, dalam istilah yang lain, merekalah “orang tengah” yang senantiasa mewarnai kita di atas kanvas kehidupan.

 

Begitu juga dengan perkahwinan, peran orang tengah tetap berkepanjangan. Hingga, al-Quran sahaja menunjuk kepada peranan orang tengah, sebagai nahkoda yang mengemudi perkahwinan agar selamat sampai di pelabuhan, di saat ombak gelora yang memukulkan. Dan siapakah yang lebih baik sebagai orang tengah, jika bukan ahli keluarga kita?

 

“Dan jika kamu khuatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga lelaki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan….”

(Surah an-Nisa’ [4]:35)

Apakah perceraian itu sudah terjadi? Belum lagi, lantaran ALLAH menyebut fain khiftum“jika kamu takut/ khuatir.” Maksudnya, hint-hint ombak badai sudah boleh dihidu oleh keluarga biar belum mereka nyatakan. Tetapi, bagaimana bisa meraka menunaikan tanggung jawab untuk concern kepada perkahwinan kita, andai sejak awal kita sudah menolak, menafi dan menidakkan peranan keluarga?

 

Bahkan siapalah yang lebih baik sebagai orang tengah, lagi bisa menutup aib daripada tersebar ke sekitar masyarakat, jika bukan keluarga tercinta? Lalu muncullah jaminan dari Sang Esa;

 

“…jika keduanya (juru damai/ orang tengah itu) bermaksud mengadakan perbaikan, maka ALLAH member taufiq kepada suami-isteri itu. Sungguh, ALLAH Maha Mengetahui, Maha Teliti”

(Surah an-Nisa’ [4]:35)

 

Nah, adakah keluarga kalian, kalian layan sebagai “orang seberang”, berbanding “orang tengah” yang sangat berperanan? Atau, kalian justeru tidak pandai mengukur, lantas menyangka seberang itu lebih hampir berbanding yang di tengah. Hmmm….

[serial nikah]: Penghormatan terhadap para wali

[serial nikah]: Penghormatan terhadap para wali

 

Lihatlah betapa Islam memartabatkan peranan sang ibu dan sang ayah, hingga meletakkan “wali” sebagai salah satu arkanul nikah (rukun nikah). Bukan berti sang wali memegang hak mutlak dalam penentuan terlaksananya akad nikah, ijab Kabul, berseminya cinta dua jiwa –kerna di sana, masih ada yang namanya wali hakim- tetapi justeru antara justifikasi yang paling paripurna tentang betapa essentialnya wali di sana boleh disumpulkan seperti berikut: penghargaan terhadap ibu dan bapa!

 

Lantas, buat anak-anak muda yang sudah semakin lupa akan segala jasa dan pengorbanan para orang tuanya, lantaran sudah mabuk dilamun “cinta”, Islam ingin menarik kembali mereka kepada suatu hakikat yang sudah semakin dilupakan: bahawa perkahwinan itu bukan hanya melibatkan dua jiwa, bahkan ia turut melibatkan dua keluarga.

 

Hingga, demikian Yusuf Qardhawi menyingkapkan rahsia pernikahan Nabi Saw dengan isteri-isterinya, Fatwa Muasshirah merakamkan betapa antara rahsia pernikahannya itu justeru didorong oleh niat dakwah terhadap keluarga dan kabilah isterinya. Betapa pernikahan, bisa membawa seluruh keluarga sang pengantin untuk tunduk menyungkur di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

 

Bukankah Abu Thalhah menyemai cinta jihadnya dengan Ummu Sulaim, diawalnya berdasarkan cinta manusia, sebelum tersemai lalu bercambah menjadi cinta yang Esa? Hingga, para ahli rijalul hadith menyatakan, Ummu Sulaim justeru meletakkan syarat kepada Abu Thalhah, yang ketika itu masih kafir, untuk menjadikan Syahadahnya sebagai mahar perkahwinan. Apakah yang terjadi kemudian? Abu Thalhal keluar di jalan jihad, untuk pulang mendapatkan anak yang ditinggalkannya dalam keadaan sakit, sudah kembali menuju haribaan Tuhannya. Tidak cukup besarkah jiwa jihad seperti itu? Yang, kemudian didoakan oleh Nabi SAW moga beroleh zuriat para huffaz belaka, demikianlah bab Sabar Riyadhus Shalihin merakamkan.

 

Atau, hikmah hanya lelaki dibenarkan menikahi wanita ahli kitab, berbanding pengharaman untuk wanita melakukan sebaliknya, bukankah untuk sebuah urusan dakwah? Bukankah mengharapkan penikahan itu, justeru membawa sang isteri ke pangkuan Islam?

 

Indahnya pernikahan, kerana membawa sinar Keislaman, sinar persaudaraan, sinar persahabatan kepada dua keluarga. Atau masyarakat sekitarnya. Atau Negara jua. Hanya, ketika hikmah kekeluargaan dihargai dalam pernikahan.

 

Nah, masih mahu mengabaikan para wali, orang tua kalian?

[serial nikah]: Walimah pengelak fitnah

[serial nikah]: Walimah pengelak fitnah

Tentu ada hikmah yang penting, hingga Nabi Saw mewajibkan kehadiran ke walimah. Sebab, sifat walimah itu sendiri, terkandung seribu satu makna yang luar biasa.

 

Bukan, bukan untuk bermewah-mewah sambil membazir tujuannya. Atau, mendapatkan “pendapatan tambahan” hingga menjemput hanya sang kaya lalu meminggirkan sang faqir perancangannya. Atau, menjadi tempat di mana “harga” yang tinggi untuk sang pingitan lewat hantarannya itu, dilaburkan sepuas-puasnya. Tidak, tidak!

 

Tetapi, justeru antara sebab yang paling jitu dianjurkan, atau di sunnah muakkadahkan walimah itu –demikian menurut jumhur- sebagai sarana “pengiklanan” kepada umum, akan telah bersatunya dua mempelai. Bertemunya dua jiwa. Bersamanya dua raga. Pungguk tidak lagi perlu merindukan bulan. Laila sudah bisa siuman dari majnunnya yang berpanjangan.

 

Pengiklanan, justeru hal itu sangat perlu. Kerana sifat Islam, sejak awal lagi ialah sadduz zara’i, yakni menutup pintu fitnah. Islam tidak hanya mahu menghukum para pemfitnah dengan dosa yang lebih afdhal dari membunuh, tetapi Islam justeru sangat bersungguh untuk menghalang umatnya daripada memperoleh dosa tersebut. Itulah sebabnya, lorong-lorong yang bisa membawa kepada fitnah sahaja, pun disuruh untuk ditutup.

 

Nah, bagaimana mungkin aktivis dakwah dewasa ini. Merasa dirinya serba serbi sempurna, dan para ibu bapanya seakan terlalu hina. Lalu, memilih perkahwinan rahsia, demi mengelak campur tangan dan halangan daripada keluarga. Ke mana hilangnya syariat walimah? Ke mana perginya pengiklanan pengelak fitnah? Apakah dakwah itu justeru mewajibkan mereka menikah tergesa-tega, lalu menghiris hati ibu bapa untuk selamanya? Sejak bila walimah pula menjadi fitnah, walhal, justeru berahsia itulah penyebab fitnah?

 

Pengiklanan, itulah sarana kita bermasyarakat. Maka, tidakkah dakwah itu juga “ke” masyarakat? Dan pernikahan itu pun, langkah awal untuk kita reach out to masyarakat?

[serial nikah]: Prolog

Aku menulis untuk bukan sekadar ‘tuk memberitahu
Kerana ini semua, kalian bahkan terlebih tahu
Tetapi, aku menulis agar kalian sedar
Betapa an-nikah, justeru adalah perkara besar
Jangan fikir ia hanya membabitkan dua jiwa
Bahkan ia penyatu dua keluarga
Bahkan ia bisa menjadi role-model untuk umat kita
Bahkan ia membawa dan menyebarkan bahgia
Bahkan ia menjadi ubat serta penawar duka
Maka, janganlah sampai ada yang kecewa
Terutama sekali keluarga tercinta
Hanya untuk bahagia dua jiwa

rafidah_halip_nikah_1

 

 

 

 

Belajarlah dari siapa pun….

Pernahkah anda terfikir, mengapa ALLAH “tiba-tiba” berbicara tentang Jin di dalam deretan wahyunya tentang kehidupan dan keTuhanan kepada Nabi? Atau, kalam-Nya merakamkan tentang makhluk yang taraf kemuliaannya mungkin lebih rendah daripada kemuliaan khalifatul ardhi yang diberikan kepada manusia, dengan rakaman supaya mengambil pelajaran daripada mereka. jawabnya, antara lain, supaya kita sudi belajar, menerima teguran, mengambil manfaat biar secumit cuma, daripada siapa pun. daripada apa pun.

 

Blog Aduka Taruna memang blog yang merapu. Isinya bagus, tapi bahasanya tidak melambangkan bahasa orang yang menjadikan dakwah sebagai lumrah hidupnya. Namun, posting terbaru Aduka Taruna (rujuk: http://adukataruna.blogspot.com/2009/11/air-mata-tok-guru-demi-mengurus.html) sungguh membuatkan hati saya sayu. Mata berair. Jiwa menangis. Ya ALLAH, betapa dahsyatnya Engkau uji Tok Guru kami yang kepingin menjadi tetamu-Mu….

 

Biarlah gambar ini yang terus berbicara….

 

tokguru2

[mari membela islam]: Jauhi Wahabi?

Jauhi Wahabi?

Entah apa yang difikirkan oleh “ahli-ahli” agama tatkala menulis. Atau berkata. Atau bertindak. Konon tindakan mereka untuk mengelak masyarakat umum menjadi keliru dengan kenyataan sesetengah “ahli agama”, tapi mereka mungkin tidak sedar, tindakan mereka itulah yang justeru menjadikan masyarakat umum semakin keliru. Lihatlah saja kontroversi yang melanda Dr. Asri (MAZA) baru-baru ini.

 

Apa pun alasannya, tentu semua orang akan setuju bahawa isu penangkapan MAZA bukan sekadar kerana beliau tidak mempunyai tauliah, tetapi yang lebih menggusarkan, beliau membawa pemikiran Wahabi yang tidak sesuai kepada masyarakat umum yang belum mengerti.

 

Lalu, penangkapan ini kemudian disoroti dengan artikel tentang bahaya Wahabi oleh akhbar. Kemudian, yang lebih malang lagi, bekas presiden sebuah gerakan islam turut masuk campur dengan artikel yang senada, konon niatnya baik lantaran ajaran MAZA dianggapnya mengelirukan orang, mungkin mereka “ahli agama” tidak sedar bahkan tindakan-tindakan mereka itu jugalah yang lebih memeningkan rakyat marhaen kini.

 

Yang saya tertarik, adalah kenyataan sekitar Wahabi. Satu mengatakan bahawa Wahabi itu bertentangan dengan ahli sunnah wal jamaah. Entah tang mana yang bertentangan, saya pun tidak pasti. Mungkin maksud dia ialah, Wahabi bertentangan dengan “ahli sunat-menyunat” kot.

 

Yang satu, di sebuah syarikat O&G tersohor, mengulas, bahawa MAZA ditangkap kerana beliau Syiah! Yang lebih lucu, ada yang tidak pandai menyebut MAZA kena tangkap kerana dia wahabi, lalu menyebut MAZA kena tangkap “kerana dia imam mahdi!” Huhu… umat oh umat.

 

Saya tertanya, justeru apakah ciri-ciri Wahabi? Lalu orang jawab, Wahabi ni mereka yang menolak tahlil arwah, menolak baca Yasin malam Jumaat, menolak berzikir jahar selepas solat, menolak qunut solat Subuh. Semua itu, menurut puak Wahabi, adalah bid’ah yang terlarang. Saya Tanya lagi, apakah cirri-ciri Syaikh Muhammad Abdul Wahab, sang pengasas wahabi? Setahu saya, beliau berjuang menolak perkara khurafat yang sedang hangat mempengaruhi masyarakat, seperti puja kubur dan sebagainya. Berdasarkan scenario itu, maka dapat difahami kenapa dia tegas sedemikian. Ada pun tentang Yasin, tahli dan sebagainya, setahu saya dia tidak membid’ahkan orang lantaran dia bukan mazhab kita Syafi’e yang mengamalkan semua itu, bahkan masyarkat sekitarnya pun tidak bermazhab syafi’e yang mengamalkan hal itu, hingga boleh marah andainya Syaikh Wahabi melarang masyarakat melakukan semua itu. Lalu, siapa pula yang mengatakan ciri-ciri Wahabi yang disebutkan tadi, memang adalah cirri-ciri khusus dakwah Syaikh Muhammad Abdul Wahab?

 

Itulah masalahnya kita. Jika kita kaji betul,betul, seseorang itu tidak menjadi Wahabi sekadar tidak berzikir lepas solat, atau berqunut, atau bertahlil. Tetapi, dia pasti dilabel Wahabi andai dia ingin beramal dengan Islam, berdasarkan dalil. “Apa hadith untuk buat benda ni?” “Ulamak mana yang kata sunnah buat perkara ini?” dan sebagainya. Nah, apakah kerana mahu beramal berdasarkan dalil, dia menjadi Wahabi? Adakah berhujah berpandukan dalil Quran dan Sunnah, bertentangan dengan ahli Sunnah wal Jamaah.

 

Di sinilah kita semaikin keliru. Melihatkan gelagat dan peperangan “ahli agama”. Kerana berbeza pendapat, lalu ada usaha haling-menghalang. Cantas-mencantas. Cela-mencela. Walhal kontraktor kuffar berbeza bidang saja, boleh berkerjasama di bawah satu projek besar untuk menjayakan projek tersebut. Tidak pula sang kontraktor bangunan kata “jauhi kontraktor M&E” atau kontraktor jalan mengatakan “kontraktor saliran bertentangan dengan hali kontraktor wal jamaah”. Tetapi, professionalism ahli dunia ini, ternyata tidak bisa disambut oleh “ahli akhirat.” Mengapa?

 

Maka, bagaimana bisa saya jauhi Wahabi, sedang ayah saya kan namanya Abdul Wahab?

Susu

Susu

-Gambar Hiasan-

Saya perhatikan saja anak saya, si kembar adik itu menyusu. Menyusu hingga puas. Selagi dia belum puas, selagi itu dia tidak mahu tidur. Saya mahu dia tidur, kerna selain saya juga keletihan dan mahu melelapkan badan, dia juga harus beroleh tidur yang secukupnya.

Ya, dia sudah makan nasi. Tapi susu tetap tidak boleh dia tinggalkan. Tidak ada salahnya, lantaran susu memang berkhasiat, lagi berzat, selain menjadi makanan ruji untuknya.

Bahkan efek dan kesan buat para bayi yang kekurangan susu, boleh membawa penyakit yang bermacam-macam. Antaranya, yang sering tidak disedari oleh kebanyakan mak ayah, ialah tulangnya akan menjadi lemah, hatta tatkala ia sudah menginjak usia dewasa.

Nah, sebegitu penting susu buat sang bayi, maka sebegitu penting jugalah tarbiyah untuk sang dai’e. Kerna susu menjadi proses seumur usia bayinya, yang tidak bisa ditinggalkan atas alasan sibuk, banyak assignment, mahu periksa, dan seumpamanya, begitu jugalah dengan tarbiyah. Kurangnya tarbiyah, mengakibatkan penyakit osteroposis (entah camane mengejanya. Pokoknya, lemah tulang) terhadap jiwa dan pengalaman para aktivis.

Memang, tarbiyah bukanlah segalanya. Seperti seorang bayi turut disuapkan dengan nasi, atau kentang, atau sayur, atau jajan (cekedies bak kata sesetengah orang), tetap susu tidak boleh kita pingirkan. Terpulang anda mahu berpolitik atau berekonomi atau berteknologi, seperti juga susu, masakan tarbiyah bisa anda lupakan?

Maka kata Imam Mursyid Syaikh Musthafa Masyhur, tarbiyah iya memang bukan segala-galanya. Tetapi segala-galanya tidak akan pernah Berjaya, tanpa tarbiyah.

Hadamkanlah susu itu wahai anakku. Dan biarkan mata lena, agar tubuhmu sihat untuk menghadapi hari esok.



Belajar daripada Sulhul Hudhaibiyah (Siri 2)

Belajar daripada sulhul Hudhaibiyah (Siri 2)

Seperti belajarnya Parti Islam untuk melakukan tahalluf siasi (kebijakan politik?) daripada peristiwa ini, maka seperti itu jugalah Parti Islam serta gerakan islam harus belajar untuk menjauhi salah satu sifat yang menonjol daripada sikap masyarakat Quraisy, begitu Rasulullah Saw dan sekitar 1400 sahabatnya berangkat menuju ke Makkah: sikap suka berperang yang tidak berkesudahan.

 

Ta’addud Jamaah

Alangkah baik lagi mulianya andai gerakan Islam di Malaysia belajar daripada “sumber rujukan” mereka –siapa lagi jika bukan ulama’-ulama’ al-Ikhwan- akan bagaimana menyikapi ta’addud atau kepelbagaian jamaah dan gerakan islam di Negara ini: apa lagi jika bukan kaedah Rasyid redha “kita bekerjasama dalam hal yang kita saling sepakati, dan saling berlapang dada dalam hal yang tidak kita sepakati.”

 

Kerana sikap anti dan dendam kesumat, yang menatijahkan sikap saling memburuk-burukkan, saling haling-menghalangi anggota daripada turut serta dalam program yang bukan anjuran jamaahnya, serta sikap meng-claim bahawa betapa merekalah jamaah Islam yang dimaksudkan oleh rasulullah, justeru adalah ungkapan hina pasukan quraisy, yang bersikap “reaktif” dan “offensive” terhadap keberangkatan umat Islam untuk berumrah. Walhal, umat Islam sudah pun memakai pakaian ihram. Walhal, umat Islam tidaklah menggendong pedang. Walhal, sudah sedemikian jelas betapa umat islam tidak menghendaki peperangan melainkan memasuki Makkah secara aman, namun, fobia Quraisy terhadap “aura” umat islam inilah (izzah ‘alal kafirin, seperti disebut surah 5:54) yang –oleh Nabi SAW- berkata: “rupanya orang-orang quraisy sudah semakin surut dan menjadi buta kerana peperangan.”

Nah, bukankah jika yakin akan mantapnya tarbiyah kita, betulnya niat dan tujuan jundi kita dibentuk, serta jamaah kita sendiri solid dan berupaya, tentu hanya kerana sebuah program, jundi kita bisa beralih ke jamaah lain? Tapi, andainya kita sendiri sedar berlaku “kebocoran” di dalam jamaah kita, atau “penyimpangan” dalam tarbiyah kita, maka itulah yang mendorong kita fobia kerana merasakan betapa jundi kita akan “menemukan kebenaran”.

 

Atau, adakah justeru kita sudah ‘semakin surut dan menjadi buta” kerana pergaduhan, perbalahan, dan pertentangan, sehingga untuk bersama gerakan islam di dalam shaf lain, adalah satu kemustahilan yang telah kita sendiri cipta di dalam mind-frame pemikiran kita, sejak daripada awalnya?

 

 

Akhlaq dan hikmah tidaklah bereti berlemah lembut

Biasakah anda dengar, para “pengkritik AF” dunia dakwah, yang melihat sebarang perkataan kasar, ataupun penegasan bahasa, sebagai pendakatan tidak berhikmah, atau tidak berakhlaq? Mari kita lihat kata-kata seorang sahabat Nabi yang lemah-lembut –itulah Abu Bakar R.A- tatkala Nabi Saw berunding dengan salah seorang wakil quraisy, Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafy, tatkala ia mendatangi baginda memulakan perundingan.

 

Demi mendengar Urwah cuba memprovokasi Nabi dengan mempertikaian kesetiaan para Muhajirin, pantas Abu Bakar yang mulia berkata: “Hai Urwah, hisaplah darah batu berhalamu si Latta hingga mati! Kau kira kami akan lari meninggalkan dia?”

 

Aduh, tidakkah kalian merasakan ayat abu Bakar itu justeru kasar, wahai para “pakar” dakwah hikmah? Atau, ketika Nabi SAW menerima cabaran Abu Rukanah untuk bergusti dengannya, yang jika ar-rasul menang, barulah ia akan memeluk Islam, sebagai kaedah dakwah yang tidak berakhlaq? Walhal, Nashiruddin al-Albani pun turut merakamkan kisah itu di dalam sahih sirah nabawiyah-nya!

 

 

Jadikanlah keseluruhan pendekatan dakwah Nabi SAW sebagai panduan, demi memahami apa itu Islam. Kerana bukan hanya ada kisah Nabi SAW menyuguhkan makanan kepada wanita Yahudi yang sering menghinanya, tetapi ada juga ketegasan nabi Saw yang ingin membakar rumah-rumah orang yang tidak mahu menunaikan solat secara berjemaah, di dalam lebaran sirah junjungan yang mulia. Maka hikmah itu terletak pada kondisi yang mana untuk kita gunakan pada kehidupan kita.