“Ibadur Rahman” Hamba yang pengasih kepada Sang Maha Pengasih

“Ibadur Rahman” Hamba yang pengasih kepada Sang Maha Pengasih

Abu Mundzir Faridul Farhan “Apakah ada penghuni langit yang sudi mengasihiku?”

Menjelang ayat-ayat akhir suratul Furqan, surah yang -sesuai dengan namanya- membicarakan antara lain perbezaan antara kebenaran keesaan ALLAH dengan kebatilan kepercayaan syirik,[1] Hamka di dalam tasirnya[2] mengembalikan ayat-ayat terakhir ini kepada diri sendiri dalam nada sebuah pertanyaan; “Siapa aku dan apa tugasku dalam alam ini?” Kerana memang, ayat-ayat akhir suratul Furqan, bermula pada ayat ke-63, melukiskan sifat-sifat dan cara hidup yang -menurut Imam Ibnu Katsir- hendaknya dimiliki oleh hamba ALLAH yang mukmin yang akan memperoleh darjat dan martabat tinggi di sisi ALLAH SWT[3].”

Itulah dia “Ibadur Rahman”, insan-insan yang ALLAH nisbahkan mereka kepada Dzat-Nya Yang Maha Suci (ar-Rahman), yang mengandungi pengertian mereka adalah hamba-hamba yang layak mendapatkan rahmat ALLAH dan mereka selalu berada dalam naungan rahmat ini. Rahmat memagari mereka dari arah kanan, kiri, atas dan bawah.[4] SubhanaLlah, tidakkah kita kepingin untuk tergolong dalam golongan ini?

Sebagaimana bangganya seseorang yang bisa bermain untuk pasukan besar seperti Manchester United, biarpun tak pernah tersenarai di dalam pasukan utamanya, namun tetap merupakan suatu pencapaian yang dianggap cukup cemerlang asal saja berada dalam senarai besar Manchedter United, sebegitu jugalah harusnya insan andai tersenarai di dalam jemaah yang ALLAH nisbahkan sendiri mereka kepada dirinya.

“Dan Ibadur Rahman (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik”

(Surah al-Furqan[25]:63)

Begitu seseorang ingin menjadi ibadur Rahman, tak boleh tidak ia harus membuang sifat “ketuanan” dalam dirinya, agar bersemadi sifat ibad, sifat kehambaan dalam sikap dan perasaannya. Betapa sehebat dan sebesar mana pun pangat, kelulusan atau gelar mereka, mereka tetap seorang hamba yang asalnya hanya dari tanah, dan ayahnya juga dari tanah, sebegitu jugalan datuk dan nenek-moyang keturunannya yang lain.

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”

(Surah al-Israa’[17]:37)

Sehebat dan segagah mana pun prestasi dan penghormatan yang diberikan orang padanya, ia tetap tidak bisa menembus bumi dalam berjalan sekalipun  ia memanjangkan kakinya. Ia tak akan, dan tak pernah akan, menyamai ketinggian gunung sekalipun ia menjulurkan leher atau mendongakkan kepala. Bahkan, rasa kebanggan dan kebesaran ini, hanya sekadar mengundang kebencian dan  ke-meluatan sang Pengasih, ALLAH Azza wa Jalla.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”

(Surah Luqman[31]:18-19)

Seperti digambarkan dalam cirri pertama ibadur Rahman lagi, sifat kehambaannya mengantarkan ia untuk berjalan dengan penuh ketawadhukan, penuh kerendahan hati yang lahir hanya dari insan yang menyedari maujud dirinya sekadar dari setetes air mani nan hina. Lantas, dari sifat kehambaan dan kerendahan hati inilah, mereka tidak pernah merasa segan untuk belajar daripada orang lain, apatah lagi untuk mendengar kritik dan saranan daripada orang lain.

Sifat kehambaan inilah yang pernah ditunjukkan oleh seorang Nabi ALLAH yang mulia, bernama Nabi Musa A.S. Biar ia seorang Nabi, itu tidak menjadi halangan untuk ia belajar dari orang yang “statusnya” rendah sikit daripada dirinya sendiri. Lalu mengembaralah ia mencari Khidir, yang menurut kebanyakan orang juga adalah Nabi atau setidak-tidaknya wali, tapi Sayyid Qutb di dalam tafsir fi Dzilal-nya tidak menyebut nama Khidir ketika menceritakan nama tok guru nabi Musa ini, melainkan menggelarnya al-Abdu as-Shalih “seorang hamba yang shalih”, lantaran al-Quran sahaja tidak pernah menyebut betapa nama sang guru itu adalah Khidir, melainkan menyebut “ab-dan min ibaa-dinaa” “seorang hamba daripada hamba-hamba Kami.” Ertinya, ALLAH menyebut umum sang guru Musa itu sebagai salah seorang hamba-Nya dari sekian banyak hamba-Nya, berbanding memberi gelar istimewa seperti al-Hakim “Sang Bijaksana” kepada Luqman, atau Dzul Qarnain “Yang Memiliki Dua Tanduk/Kekuasaan”, barangkali agar kita bisa mengambil iktibar betapa biarpun anda seorang Nabi, tidak bererti anda tidak bisa belajar hatta daripada seorang hamba.

Tapi, di sinilah cacatnya diri kita. Sering kita merasa seolah kitalah syeikh yang paling agung, dan tidak ada yang bisa menandingi keilmuan dan kecemerlangan kita. Lalu dengan pendirian sebeginilah, sering kita memilih untuk tidak belajar daripada orang lain, terutama sekali dari Barat, lantaran merasakan bahawa tidak ada yang bisa dipelajari daripada kaum yang tidak membaca apa lagi mengimani al-Quran al-Karim. Biarpun sering masyarakat kuffar Barat ini lebih Islami berbanding kita, seperti yang pernah disimpulkan Jamaluddin al-Afghani demikian pulang daripada Paris; “Aku menjumpai Islam tanpa Muslim di Barat, dan Muslim tanpa Islam di Timur.”

Lantaran keegoan ini, kita tidak suka mengamalkan syura dengan orang lain, apatah lagi jika ia adalah orang bawahan kita, seakan-akan Nabi SAW tidak pernah bersyura dengan bawahan yang sebenarnya merupakan sahabat-sahabatnya. Lalu ALLAH pun mencontohkan seorang pemimpin kafir di dalam al-Quran, tepatnya Ratu Saba’, yang biarpun ia adalah pemimpin tertinggi Negara, tapi ia seolah-olah “mendengar” keutamaan dan kepentingan Syura di dalam kehidupan.

“Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.

Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri”.

erkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis (ku)”.

(Surah an-Naml[27]:29-32 )

Bukankah ALLAH ketika mahu menjustifikasikan peri-pentingnya Syura, tidak DIA nukilkan melainkan di sela-sela kewajipan-kewajipan yang lain seperti merespon terhadap panggilan ALLAH, menunaikan solat serta menunaikan infaq (zakat)?

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan syura antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka

(Surah asy-Syura[42]:38)

Bukankah “sang penjenayah” yang egois seperti Qabil saja, tetap merendah diri untuk belajar daripada binatang tatkala mahu mengebumikan mangsa pembunuhannya, Habil?

“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.”

(Surah al-Maidah[5]:31 )

Dan bukankah Rasul kita Muhammad SAW sahaja tidak segan untuk menjadikan hatta seorang perempuan pelacur sebagai contoh teladan, lantaran kepelacuran sang wanita itu tidak menghalangnya daripada mencontohkan sebuah teladan penuh kebaikan?

Ketika seekor anjing mengelilingi sebuah sumur dalam kondisi hampir mati karena kehausan, tiba-tiba seorang wanita pelacur dari Bani Israel melihatnya. Lalu wanita itu menanggalkan terompahnya dan memberi minum anjing tersebut dengan terompahnya itu, sehingga ia diberikan ampunan oleh Allah.” (HR Muslim)

Tidak malukah kita mengaku sebagai seorang pembela dan pencinta agama, sebagai ibadur Rahman, sedang kesombongan kita untuk belajar atau setidak-tidaknya mendengarkan orang lain, sudah membuktikan setidak-tidaknya 2 hal, satu betapa sifat “ketuanan” melebih sifat kehambaan dalam diri kita, dan yang keduanya tidak terwarisnya sifat penyayang ar-Rahman ke dalam diri kita.

“Orang-orang yang pengasih dikasihi oleh “ar-Rahman” (ALLAH) Tabaraka wa Ta’ala. Maka kasihanilah penghuni dunia, nescaya dirimu dikasihi oleh penghuni langit.”

(Hadith riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan al-Hakim dari hadith Abdullah Bin Umar)

Kerana rasa sayang dan cinta, ALLAH memerintahkan Rasulullah SAW untuk tawadhuk, dan baginda biarpun sebagai makluk ALLAH yang paling mulia namun juga merupakan orang paling tawadhuk dalam sejarah umat manusia. Lalu dengan rasa sayang dan cinta juga Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk tawadhuk.

Lihatlah bagaimana biarpun ia sudah terbiasa hidup dalam lingkungan pemimpin dan pembesar lantaran sering dibawa oleh datuknya Abdul Mutalib dalam rapat-rapat penting para petinggi Quraisy[5], ia tidak segan-silu berpindah dari kehidupan serba elit bersama pembsear Quraisy kepada kehidupan rakyat jelata, sebagai pengembala kambing.

Tidakkah contoh ini menggetarkan jiwa kita, tatkala seorang Nabi SAW nan mulia, tidak malu mengembala kambing sedang kita, lantaran belajar luar negeri atau punya Master atau PhD, teramat malu untuk membina kerjaya di luar bidang kita, seperti kerja pomen, menebas rumput, menjadi kerani dan sebagainya, biarpun zaman menjelaskan betapa sulitnya beroleh kerja dan betapa diri kita tetap masih seorang penganggur?

Dengan mengembala kambing, baginda tidak hanya merendahkan diri kepada manusia, tetapi juga kepada binatang. Beliau tidak canggung hidup di tengah-tengah kambing yang berbau dan kotor. Baginda menjaga dan leyani kambing dengan penuh kasih sayang, membantu persalinan kambing yang melahirkan, hingga tidak ada jarak antara baginda dengan kambing yang digembalakannya.[6]

Maka cubalah anda kirimkan “sms” atau titipkan “surat” ke penghuni langit dan saksikanlah sendiri, apakah ada penghuni langit yang sudi -atas dasar kesihnya padamu- membalas “sms” atau “suratmu” itu?

RUJUKAN

[1]        Muqaddimah Surah al-Furqan di dalam al-Qur’an dan Terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia, Juz 18, ms. 558

[2]        Prof. Dr. Hamka, “Tafsir al-Azhar Juzu’ 17-18-19-20″, Pustaka Panjimas, ms. 40

[3]        Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsier (Jilid 6), Victoria Agencie(1994), ms.  31-32

[4]        Yusuf al-Qaradhawiy, “12 Peribadi Cemerlang Ibadurrahman: cirri yang ALLAH sebutkan 1500 tahun lalu”, Blue-T Publication(2007),  ms. 3

[5]        Anis Matta, “Demi Hidup Lebih Baik”, Cakrawala Publishing(2007), ms. 88-89

[6]        Habiburrahman el-Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih Episode 2″, Republika-Basmala(2007), ms. 187-188

About faridul

Engineer di siang hari, murabbi di malam hari, da'ie sepanjang hari
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to “Ibadur Rahman” Hamba yang pengasih kepada Sang Maha Pengasih

  1. Ukht Leeds says:

    Assalammu’alaikum w.b.t…

    “Aku menjumpai Islam tanpa Muslim di Barat, dan Muslim tanpa Islam di Timur”

    Memang tepat apa yang disimpulkan oleh Jamaluddin al-Afghani ini..
    saya sendiri dapat merasainya sekarang di bumi asing ini…
    Semoga kita semua berada di dalam ramatNya sentiasa..amin…

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s