[serial nikah]: Kepentingan “Orang Tengah”

[serial nikah]: Kepentingan “Orang Tengah”

Bisakah anda bayangkan perlawanan bola sepak tanpa pengadil, atau mahkamah tanpa hakim, atau sekolah tanpa pengawas? Perlawanan bola sepak tetap bisa berlangsung, tetapi pergaduhan yang terletus, atau ketidak puas hatian yang membarah, atau keputusan yang dipertikai, adalah natijah perlawanan tanpa seseorang yang menjaga ruang pengadilan.

 

Begitu juga dengan mahkamah tanpa seorang hakim. Siapakah yang mahu mengawal aturan dan ketenteraman ruang pengadilan, terutamanya di saat suasana berbaur ketegangan? Dan siapa pula yang mahu menjaga kedamaian dan kenyamanan suasana sekolah, atau menenangkan rakan daripada meletuskan perbalahan, atau menjadikan perjalanan persekolahan serba teratur, andai tiada yang menjadi pengawas sekolah?

 

Begitulah lumrahnya. Individu sebegini penting justeru bukan sahaja sebagai “pemegang kuasa”, tetapi lebih kepada “pemegang suasana.” Mendamaikan di kala perbalahan. Menenangkan di  saat ketegangan. Mengaturkan di waktu kekusutan. Menyatukan di ketika hampir terjadi perpisahan. Atau, dalam istilah yang lain, merekalah “orang tengah” yang senantiasa mewarnai kita di atas kanvas kehidupan.

 

Begitu juga dengan perkahwinan, peran orang tengah tetap berkepanjangan. Hingga, al-Quran sahaja menunjuk kepada peranan orang tengah, sebagai nahkoda yang mengemudi perkahwinan agar selamat sampai di pelabuhan, di saat ombak gelora yang memukulkan. Dan siapakah yang lebih baik sebagai orang tengah, jika bukan ahli keluarga kita?

 

“Dan jika kamu khuatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga lelaki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan….”

(Surah an-Nisa’ [4]:35)

Apakah perceraian itu sudah terjadi? Belum lagi, lantaran ALLAH menyebut fain khiftum“jika kamu takut/ khuatir.” Maksudnya, hint-hint ombak badai sudah boleh dihidu oleh keluarga biar belum mereka nyatakan. Tetapi, bagaimana bisa meraka menunaikan tanggung jawab untuk concern kepada perkahwinan kita, andai sejak awal kita sudah menolak, menafi dan menidakkan peranan keluarga?

 

Bahkan siapalah yang lebih baik sebagai orang tengah, lagi bisa menutup aib daripada tersebar ke sekitar masyarakat, jika bukan keluarga tercinta? Lalu muncullah jaminan dari Sang Esa;

 

“…jika keduanya (juru damai/ orang tengah itu) bermaksud mengadakan perbaikan, maka ALLAH member taufiq kepada suami-isteri itu. Sungguh, ALLAH Maha Mengetahui, Maha Teliti”

(Surah an-Nisa’ [4]:35)

 

Nah, adakah keluarga kalian, kalian layan sebagai “orang seberang”, berbanding “orang tengah” yang sangat berperanan? Atau, kalian justeru tidak pandai mengukur, lantas menyangka seberang itu lebih hampir berbanding yang di tengah. Hmmm….

Perihal faridul

Engineer di siang hari, murabbi di malam hari, da'ie sepanjang hari
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s