<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Tadabbur al-Engineer (faridul.blogspot.com)</title>
	<atom:link href="http://faridul.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://faridul.wordpress.com</link>
	<description>"Jadilah kamu seperti sepohon pokok. Mereka melempari kamu dengan batu, kamu menggugurkan kepada mereka buah yang ranum" - Imam as-syahid Hassan al-Banna</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Dec 2009 14:21:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>ms</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='faridul.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/2d53773256dec9246618f076e917f734?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Tadabbur al-Engineer (faridul.blogspot.com)</title>
		<link>http://faridul.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>[arkib]: -</title>
		<link>http://faridul.wordpress.com/2009/12/03/arkib/</link>
		<comments>http://faridul.wordpress.com/2009/12/03/arkib/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 14:05:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faridul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faridul.wordpress.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku,
tahanlah kecewamu hingga batas yang luas
jangan biarkan kecewamu membinasakan
hati dan fikiranmu yang mulia
Berkacalah kepada para anbiyya
atau para sahabat-sahabatnya
bagaimana mereka terbuang awalnya
dimuliakan oleh malaikat pada akhirnya
masih ada orang yang sehati dan sefikrah denganmu
sunyi sendiri raganya tapi ramai gembira dalam amal dan do&#8217;a
kau ada banyak teman di sini di sana dan dipelbagai sudut dunia.
aku pastikan salam cinta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=497&subd=faridul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:right;"><em>Saudaraku,<br />
tahanlah kecewamu hingga batas yang luas<br />
jangan biarkan kecewamu membinasakan<br />
hati dan fikiranmu yang mulia<br />
Berkacalah kepada para anbiyya<br />
atau para sahabat-sahabatnya<br />
bagaimana mereka terbuang awalnya<br />
dimuliakan oleh malaikat pada akhirnya<br />
masih ada orang yang sehati dan sefikrah denganmu<br />
sunyi sendiri raganya tapi ramai gembira dalam amal dan do&#8217;a<br />
kau ada banyak teman di sini di sana dan dipelbagai sudut dunia.<br />
aku pastikan salam cinta dari kami semua<br />
Tapi&#8230;.<br />
apalah arti cinta dan salam kami<br />
di sisi doa dan keluhanmu pada Robbiy Izzatiy<br />
Berjamaah bisa bersendiri, asal tetap pada pelukan Ilahi Robbiy.<br />
</em></p>
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:right;"><em>Ya Allah jagalah anak kami, mujahid kecil kami, da&#8217;ie mukhlish kami&#8230;<br />
generasi baru negri jiran kami sangat menanti mereka ya Allah<br />
Ya Allah<br />
telah berkali-kali gerakan suci di sana<br />
hilang taji dan amal murni,<br />
mereka tak mampu membangun diri<br />
menjadi contoh perubah sejati<br />
hanya kerana &#8230;..<br />
masalah hati..<br />
Ya Allah, jauhilah mereka dari penyakit hati..</em></p>
<p style="text-align:right;"><em>Akhi, bertahanlah<br />
semakin sukar semakin dekat dengan puncak<br />
“falak tahamal aqobah”</em></p>
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:right;"><em>Jangan kecewakan ALLAH, </em></p>
<p style="text-align:right;"><em>ketika dikau dikecewakan oleh manusia<br />
</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/faridul.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/faridul.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/faridul.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/faridul.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/faridul.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/faridul.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/faridul.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/faridul.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/faridul.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/faridul.wordpress.com/497/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=497&subd=faridul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faridul.wordpress.com/2009/12/03/arkib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3488bb6e705d1c5017253d46a835d400?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[arkib]: Ana rindu dengan zaman itu</title>
		<link>http://faridul.wordpress.com/2009/12/03/arkib-ana-rindu-dengan-zaman-itu/</link>
		<comments>http://faridul.wordpress.com/2009/12/03/arkib-ana-rindu-dengan-zaman-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 13:59:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faridul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faridul.wordpress.com/2009/12/03/arkib-ana-rindu-dengan-zaman-itu/</guid>
		<description><![CDATA[Ikhwah budiman, surat ini ditulis seorang kader dakwah sebelum wafatnya guru dakwah Ustadz Rahmat Abdullah rahimullah. Dwi Fahrial, penulis surat ini, menggali keindahan memori dakwah yang ada dalam benak dan pikirannya pada masa2 yang telah lewat. Tentang kegigihan para kader dalam mempertahankan prinsip yang mereka yakini kebenarannya. Tentang sejumlah keprihatinan yang ditemukan penulisnya pada fase [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=495&subd=faridul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Ikhwah budiman, surat ini ditulis seorang kader dakwah sebelum wafatnya guru dakwah Ustadz Rahmat Abdullah rahimullah. Dwi Fahrial, penulis surat ini, menggali keindahan memori dakwah yang ada dalam benak dan pikirannya pada masa2 yang telah lewat. Tentang kegigihan para kader dalam mempertahankan prinsip yang mereka yakini kebenarannya. Tentang sejumlah keprihatinan yang ditemukan penulisnya pada fase dakwah sekarang. Maka, surat ini pun diberi judul oleh penulisnya, “Ana rindu dengan zaman itu…”Aq sengaja mengetik dan menyuguhkannya pada blogku kali ini. Pada saat aq membacanya di majalah da’watuna, gagal mata ini menahan linangan air mata. Karena mungkin, aqlah salah satu dari mereka yang penulis khawatirkan dan dirindukan untuk kembali. Walaupun, “zaman” itu belumlah pernah aq rasakan. Tapi…aq ingin sekali mencoba merasakan nikmatnya mengisi hari2 seperti ikhwah pada “zaman” itu…Bagaimana dengan kalian ikhwah fillah…?</em><br />
<strong> </strong><br />
<strong>ANA RINDU DENGAN ZAMAN ITU…</strong><br />
( Surat terbuka untuk ustadz Rahmat Abdullah yang dimuliakan Allah)</p>
<p><img src="http://photos1.blogger.com/blogger/6138/2832/320/RahmatAbdullah.jpg" border="0" alt="" /></p>
<p><em>Almarhum KH Rahmat Abdullah, mantan Ketua Majlis Syuro PKS</em><br />
Ustadz yang dikasihi Allah…Sudah lama ana ingin menulis surat seperti ini, untuk sekedar silaturahmi dan melepas rasa rindu karena lama tak bertemu. Awalnya ana sempat khawatir karena tidak semua orang suka dengan surat sebagai media silaturahmi. Mungkin karena keterbatasan bahasa tulis untuk mengekspresikan makna sebuah nasihat, usulan atau kritikan. Atau kadang2 suasana hati yang sedang tidak mood ketika membacanya. Akibatnya nasihat bisa dianggap muslihat, usulan seolah ingin menjatuhkan dan kritik dirasa sangat sarkastik. Akhirnya surat yang dimaksud sebagai media silaturahmi, nasihat, kritik, maupun saran itu malah berubah menjadi masalah.</p>
<p>Namun rasa rindu ana akhirnya mengalahkan kekhawatiran itu. Kerinduan untuk bersua, meski hanya dalam lembar2 surat ini. Semoga Ustadz bersedia membaca oretan ini dan maafkan jika ada pilihan kata yang tak berkenan.</p>
<p>Ustadz yang dirahmati Allah…Sesungguhnya kerinduan ana yang lebih dahsyat lagi adalah kerinduan menikmati masa2 indah saat pertama kali mengenal dakwah bersama Ustadz. Saat ketika halaqah menjadi kebutuhan, bukan sambilan atau tempat mampir sepulang dari kantoran. Saat ketika membina adalah kewajiban bukan paksaan atau beban yang memberatkan. Anapun rindu ketika dauroh menjadi kebiasaan bukan sekedar program yang dipaksakan.</p>
<p>Rasanya nikmat sekali ketika hampir setiap pekan pergi kepuncak untuk mengisi dauroh. Meski ongkos ngepas dan peta yang tak jelas. Kadang kuyup pula kehujanan atau nyasar dikegelapan. Ana juga rindu saat pintu rumah diketuk ditengah malam untuk berkumpul esok paginya. Atau pergi jaulah keluar kota untuk ta’lim silaturahmi atau sekedar menjadi muajih pengganti. Begitu juga kerinduan saat merasakan kenikmatan hadir di liqo, bertemu dengan ikhwah dan memberi makanan hati dan nurani.</p>
<p>Ustadz…terus terang, banyak hal2 mengasyikkan yang telah hilang dari dakwah ini, dan dari diri ana tepatnya.</p>
<p>Ustadz yang disayangi Allah…Satu saat dipesta walimahan seorang ikhwah belum lama ini, ana ngobrol2 dengan beberapa ikhwah yang lain. Ternyata kami merasakan hal yang sama, bahwa sudah lama kami tidak menghadiri lagi walimahan yang benar2 dipisah antara tamu ikhwan dan akhowatnya seperti “zaman” itu. Kami merasakan adanya pergeseran sikap dikalangan ikhwah. Padahal, pada “zaman” itu, para akhowat berani kabur saat walimahannya hanya karena harus duduk bersanding berdua didepan para tamu. Ada juga yang pura2 pingsan, sakit perut, kejang kaki, dan entah apa lagi yang dilakukan. Mereka hanya ingin menolak ikhtilat sebisa mereka mampu. Hebat sekali mereka. Tapi kini, ikhtilat seakan menjadi biasa saja. Jangankan pesta walimahannya, proses pernikahannya pun ada yang rada2 aneh. Ada yang ngetek jauh2 hari, ada yang memberi kriteria tapi sangat spesifik, ada yang uraian kriterianya sampai dua lembar, bahkan ada yang mengawalinya dengan proses ta’aruf sendiri. Baik telpon2an, SMS, atau bahkan bertemu langsung. Berdua, hanya berdua. Sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi pada “zaman” itu. Jangankan berduaan, berpapasan dijalan saja saling menjauh dan bertamu hanya dari balik pintu. Kadang lucu juga kalau ingat masa itu.</p>
<p>Ustadz…Ana semakin rindu pada “zaman” itu. Ketika tsiqoh pada murobi membuat kami merasa aman untuk saling terbuka. Tsiqoh membuat hubungan kami merasa nyaman dan mengasyikkan. Dengan tsiqohlah kami merajut tali ukhuwah dengan tsiqoh pula kami mempercayakan proses pernikahan kami. Seingat ana, rata2 kami memang hanya mengandalakan ketsiqohan pada murobi dalam urusan memilih pasangan. Karena kami tahu betul, bahwa murobi tidak memutuskan sendiri. Ada banyak mata dan telinga lain bersamanya. Dan yang terpenting, kami memahami bahwa murobi adalah perpanjangan tangan jama’ah dalam kedudukannya itu. Itulah modal besar kami dalam berdakwah dimarhalah dakwah keluarga.</p>
<p>Ustadz yang diberkahi Allah…Ana membaca beberapa tulisan Ust. Mahfudz Sidik di majalah SAKSI tentang kekeruhan hubungan ikhwan-akhowat yang kader hingga bikin ana melongo. Temuan kaderisasi DPP tentang masalah ini semakin membuat ana nggak mengerti, apa yang sesungguhnya tengah terjadi dengan penghuni rumah besar tarbiyah ini. Masalah datang bertubi-tubi tak henti2. Menggoyang pilar2 bangunan, membuat dinding bergetar dan atapnya berderak-derak.</p>
<p>Bukan saja menimpa para kader muda yang gadis dan bujangnya, tapi juga menimpa para suami, para istri, para murobi bahkan para asatidznya juga. Dari mulai anak2 ustadz yang mulai ABG tapi belum juga ngaji (halaqoh), aktitivis kampus yang dilanda virus merah jambu, juga para suami yang bermasalah dengan istri2nya karena trend ta’adud, kekerasan keluarga, PIL/WIL, hingga perceraian. Ada juga yang bermasalah di liqo, rekrutmen yang lemah, pembinaan payah, sampai ada kader inti yang tidak punya binaan bahkan ada yang berbulan2 tidak hadir di liqonya. Entahlah ia menganggap liqo sebagai apa. Masalah lainnya adalah kecemburuan sebagian kader pada ikhwah kita yang menjadi aleg. Kecemburuan yang menjadi hasad, bergeser menjadi ghibah, su-udzon, iri bahkan ujungnya jadi ambisi.Ana ingat salah satu nasihat ustadz tentang hal itu, ”…Memangnya kita tidak senang melihat kesenangan saudara kita. Yang tadinya tidak punya motor sekarang punya, yang tadinya menjadi kontraktor kini punya rumah sendiri…” Ana merasa nasihat itu mampu meredam sebagian sas-sus di kalangan ikhwah. Itulah pentingnya nasihat dan teladan dari seorang guru dan murobi seperti Ustadz. Adem rasanya.</p>
<p>Meski memang tidak dipungkiri, ada juga beberapa aleg yang agak berlebihan dalam mengekspresikan “syukurnya” dihadapan ikhwah yang lain. Bahkan ada pula yang memang jelas2 bermasalah.</p>
<p>Ustadz yang dirahmati Allah…Ada yang bilang masalah2 itu datang sebagai konsekwensi logis dari pilihan kita sendiri. Pilihan kita ketika memasuki mihwar dakwah kelembagaan (parlemen) setelah sebelumnya berada di mihwar tandzimi dan sya’bi. “…Hiruk pikuk politik sedemikian keras menggema hingga memekakkan telinga, membutakan mata dan mematikan rasa…” Kata sebagian mereka.</p>
<p>Ana tidak sepakat dengan ungkapan itu, tapi menurut ana tidak juga semuanya harus ditolak.</p>
<p>Alhamdulillah, sebuah kebaikan dari pilihan kita itu sudah mulai kita rasakan. Cukup banyak untuk disebutkan. Satu kemenangan luar biasa dalam dunia dakwah kita. Anugerah Allah yang seharusnya disyukuri dengan sedalam-dalam keikhlasan. Meski tentu saja tanpa menutup-nutupi beberapa masalah yang timbul bersamanya. Keterbukaan tandzim, agak terabaikannya pembinaan, melemahkan maknawiyah kader dan membengkaknya pembiayaan dakwah, adalah diantara masalah2 itu. Namun ana yakin, kita tidak akan berhenti apalagi mundur karena masalah itu. Seperti Musa yang terjepit di tepi laut Merah dan kejaran tentara Fir’aun. Ana masih ingat taujih Ustadz ketika menggambarkan situasi itu dan kaitannya dengan kondisi da’I dalam menghadapi ujian. Ketakutan, kecemasan, kesempitan, siksaan dan pembunuhan menjadi selesai dengan kalimat “Inna ma’iya Robbi sayahdin…”(Sesungguhnya aku selalu bersama Rabb-ku yang akan memberiku petunjuk) Rahasianya adalah hubungan kita dengan Allah maka situasi apapun yang dihadapi ketika bersama Allah, maka akan selalu mendapat kebaikan, meski nyawa sebagai taruhannya.</p>
<p>Ustadz yang diberkahi Allah…Ana masih sepakat jika ada yang mengatakan bahwa ustadz adalah simbol dakwah ini, bukan karena kultus individu, tapi lebih karena peran dan posisi ustadz dulu dan kini. Apalagi kini sebagai aleg, semakin banyak kader mengharap. Melihat contoh teladan ustadz sebagai aleg parlemen. Sampai ada yang bilang, “Kalau Ustadz Rahmat juga bermasalah di parlemen, siapa lagi yang akan kita lihat teladannya…”</p>
<p>Memang, ana rindu betul melihat murobi kembali jadi teladan. Teladan dalam kesigapan taat, dalam kesiapan menerima kritik, dalam kehadiran, dalam semangat tatsqif, dalam kebugaran fisik, dalam hafalan, dalam banyak bacaan, dalam amalan sunah, dalam bermasyarakat, dalam…banyak hal yang menjadi muwashofat kader menuju profil idaman 2009.</p>
<p>Ustadz yang disayangi Allah…Kedepan, kita pasti membutuhkan energi lebih besar untuk memikul beban dakwah yang berat ini. Kesolidan tandzim dan kekuatan maknawiyah kader sudah menjadi keharusan. Selain itu Ustadz, kebijakan, sifat kebapak-an dan qudwah dari para asatidz, murobi dan pengambil keputusan di level atas agar tetap terjaga. Termasuk kearifan memberlakukan iqob bagi para kader yang melanggar. Tentu saja iqob itu perlu diberlakukan, sebagai bagian proses tarbiyah itu sendiri. Tapi kesalahan juga adalah sifat manusiawi khan ustadz?Artinya bisa menimpa siapa saja. Termasuk para kader bahkan kader inti sekalipun. Sungguh, nasihat2 sejuk dari ustadz sangat mempengaruhi kader2 yang khilaf, lupa, bersalah atau bahkan memusuhi. Semoga dengan begitu, mereka akan kembali ke habitat tarbiyah yang berkah ini.</p>
<p>Ustadz…, semoga ini bisa mengurangi kerinduan ana. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kekuatan untuk Ustadz dan para asatidzyang lain dalam menjaga dakwah negri ini. Sehingga tidak ada yang tegak kecuali kalimat al-Haq, tidak ada yang tinggi kecuali panji Ilahi, dan tidak ada yang menang kecualai para pendukung kebenaran. Hingga tidak ada lagi fitnah, dan Ad-din ini hanya bagi Allah saja. Hingga terwujudlah keadilan dan kesejahteraan di bumi pertiwi ini. Aamin ya mujibas saili.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/faridul.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/faridul.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/faridul.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/faridul.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/faridul.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/faridul.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/faridul.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/faridul.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/faridul.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/faridul.wordpress.com/495/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=495&subd=faridul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faridul.wordpress.com/2009/12/03/arkib-ana-rindu-dengan-zaman-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3488bb6e705d1c5017253d46a835d400?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos1.blogger.com/blogger/6138/2832/320/RahmatAbdullah.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>[serial nikah]: Sekilas Pandangan Tokoh Sunnah tempatan</title>
		<link>http://faridul.wordpress.com/2009/12/01/serial-nikah-sekilas-pandangan-tokoh-sunnah-tempatan/</link>
		<comments>http://faridul.wordpress.com/2009/12/01/serial-nikah-sekilas-pandangan-tokoh-sunnah-tempatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 00:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faridul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faridul.wordpress.com/2009/12/01/serial-nikah-sekilas-pandangan-tokoh-sunnah-tempatan/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah saya katakan, saya sangat kasihan dengan ibubapa dewasa ini. Seakan kebahagiaan bukan ditakdirkan untuk mereka, lantaran anak yang degil menyakitkan hati, anak yang beragama mengguris hati. Apa pun kondisi, ibubapa jugalah yang sering diletakkan di atas “neraca timbangan”, untuk “diadili” oleh sang anak, yang baru tahu hadith satu-dua.

&#160;
Saya jadi tersenyum sendiri tatkala membaca kembali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=492&subd=faridul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sudah saya katakan, saya sangat kasihan dengan ibubapa dewasa ini. Seakan kebahagiaan bukan ditakdirkan untuk mereka, lantaran anak yang degil menyakitkan hati, anak yang beragama mengguris hati. Apa pun kondisi, ibubapa jugalah yang sering diletakkan di atas “neraca timbangan”, untuk “diadili” oleh sang anak, yang baru tahu hadith satu-dua.</p>
<p><a href="http://faridul.files.wordpress.com/2009/12/ayah-ibu.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-491" title="ayah ibu" src="http://faridul.files.wordpress.com/2009/12/ayah-ibu.jpg?w=200&#038;h=293" alt="" width="200" height="293" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya jadi tersenyum sendiri tatkala membaca kembali buku salah seorang tokoh dakwah salafiyyah dan pejuang sunnah tempatan, Kapten Hafiz Firdaus. Berbanding saya yang sekadar menyentuh hukum anak yang kurang ajar, biadap dalam perkataan, dan lebih daripada perkataan <em>“uffin” </em>terhadap kedua ibubapanya (bahkan saya turut menyatakan jangankan wali kepada suami yang tidak pernah saya sebutkan sebagai rukun nikah, bahkan wali kepada isteri pun, dalam kes tertentu, boleh di-<em>take over </em>oleh wali hakim, <a href="../2009/11/17/serial-nikah-penghormatan-terhadap-para-wali/">http://faridul.wordpress.com/2009/11/17/serial-nikah-penghormatan-terhadap-para-wali/</a>), Kapten Hafiz Firdaus di dalam bukunya <em>“Wahai Ibu! Wahai Ayah!” </em>terbitan Jahabersa (boleh juga didownload free di sini: <a href="http://hafizfirdaus.com/">http://hafizfirdaus.com/</a>) bahkan menyatakan betapa ibubapa memiliki hak dalam pemilihan pasangan hidup anak. Baik itu anak lelaki, baik itu anak perempuan. Yang lebih menarik, Kapten Hafiz Firdaus bahkan menggunakan kisah Umar al-Khattab R.A menyuruh anaknya untuk menceraikan isterinya (Shahih Sunan Abu Daud no. 5138, Shahih Sunan at-Tirmizi no. 1900) sebagai dalil tentang perkara ini. Berbeza dengan saya yang <span style="text-decoration:underline;">tidak </span>menyentuh hokum perkahwinan mempelai yang tidak mendapat keizinan ibubapa (bukankah saya fokuskan kepada akhlak anak kepada ibubapanya? Adakah itu terlalu sukar untuk difahami?), Kapten Hafiz Firdaus bahkan menyatakan <em>“Pada waktu yang sama, pasangan lelaki <span style="text-decoration:underline;">wajib</span> mendapatkan izin dan redha ibubapanya sendiri.” (ms. 88)</em>. Nah, adakah selepas ini, Kapten Hafiz Firdaus pula akan dikatakan sebagai “belajar agama tapi bodoh juga”, dan perlu juga ambil “Sijil Syariah” dan “Sijil al-quran” di UM, dan akan dikeluarkan daripada list tokoh sunnah tempatan? Dan, websitebeliau harus diboikot kerana menyebarkan bid’ah di dalam masyarakat?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahkan saya semakin tersenyum tatkala mengingati perbualan telefon saya dengan seorang ustaz Institut al-Qayyim (IQ) (<a href="http://al-qayyim.net/">http://al-qayyim.net/</a>). Buat pengetahuan, IQ adalah sebuah institute yang memperjuangkan sunnah dan gerakan tajdid di Negara kita. Perbualan telefon saya dengan Ustaz Hisyam IQ nampaknya menatijahkan kesimpulan yang sama. Menurut ustaz Hisyam, dirinya dan Presiden IQ, Ustaz Rasyid tidak pernah mengajar kepada anak-anak muda ini untuk bernikah diam-diam dan mengabaikan mak ayah, bahkan mereka pun turut melihat tindakan sebegini sebagai membawa fitnah, bukan saja kepada anak-anak muda yang “memandai” itu, bahkan kepada IQ sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang lebih menarik, pengasas IQ sekaligus tokoh sunnah tempatan serta mantan mufti Perlis, Dr. Mohd Asri (MAZA) mempunyai “pandangan berbeza” dengan sebahagian anak-anak muda yang perasan “terlalu sunnah” terhadap Syed Qutb. Seperti juga Dr. Yusuf Qaradhawi yang ada satu-dua perkara yang tidak sependapat dengan Syed Qutb, namun baik MAZA baik Qaradhawi, tetap meletakkan Syed Qutb pada tempat yang seharusnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nampaknya, persoalan sebahagian pengunjung akan “benarkah ada aktivis yang nikah rahsia” sudah pun terjawab. Dan, nampaknya relevannya saya menuliskan “serial nikah” ini memang kena pada masanya, apatah lagi bila anda sendiri boleh melihat orang yang “baling batu sembunyi tangan”, mahu berhujah tapi merahsiakan identity. Deretan bahasa dan pendekatan yang, anda sendiri boleh bayangkan bagaimana perasaan ibubapa apabila anak-anak kesayangan mereka yang kononnya beragama, tergamak meletakkan mereka di “timbangan”, sewenang-wenangnya men<em>demand </em>ibubapa untuk menjadi seorang Umar, tapi sang anak pula lupa untuk menjadi seorang Ibnu Umar. Apakah mereka sudah lupa tentang hadith Nabi SAW; <em>“Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menyayingi ulamak, berhujah dengan orang yang lemah akalnya, supaya wajah manusia berpaling kepadanya, maka dia masuk ke Neraka.”</em> Tidakkah ilmu itu justeru menjadikan mereka lebih merendah diri dan tahu menghormati ibubapa mereka, seperti hormatnya tokoh-tokoh salaf tempatan di atas terhadap ibubapa mereka? Atau, justeru ilmu itu, seperti saya katakan dulu, justeru menjadikan ibubapa mereka “lebih terhina”, lebih tidak tahu, lebih rendah berbanding mereka? Dan lebih malanya, mereka tidak sedar betapa inilah <em>uffin </em>yang dilarang al-quran terhadap seorang anak kepada kedua ibubapanya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terima kasih Kapten Hafiz Firdaus, ustaz Hisyam dan MAZA kerana mengerti bagaimana ibubapa seharusnya dihargai. Ingatlah, nikah itu bukan sekadar “mengelak terjerumus ke kancah zina” semata. Jika hanya itulah tujuan anda tanpa langsung ingatan betapa pernikahan itu proses “berkeluarga”, apalah bezanya dengan para pemikir Barat yang melihat pernikahan itu alat pemuas seks semata?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/faridul.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/faridul.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/faridul.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/faridul.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/faridul.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/faridul.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/faridul.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/faridul.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/faridul.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/faridul.wordpress.com/492/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=492&subd=faridul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faridul.wordpress.com/2009/12/01/serial-nikah-sekilas-pandangan-tokoh-sunnah-tempatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3488bb6e705d1c5017253d46a835d400?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://faridul.files.wordpress.com/2009/12/ayah-ibu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ayah ibu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[ARKIB]: Serial Pengorbanan</title>
		<link>http://faridul.wordpress.com/2009/11/25/arkib-serial-pengorbanan-2/</link>
		<comments>http://faridul.wordpress.com/2009/11/25/arkib-serial-pengorbanan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 02:41:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faridul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faridul.wordpress.com/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[serial pengorbanan]: DEMI RASULKU YANG TERCINTA
Oleh: Engr. Faridul Farhan Abd Wahab “bisakah ketemu al-Musthafa di Syurga?”
Tatkala duduk Umar Abdul Aziz di atas mimbar dewan pada hari pertama kekhalifahannya, datang orang ramai mengucapkankan tahniah di atas pemerintahan yang, di kemudian harinya, memahat legacynya yang tersendiri. Selanjutnya, masuk tiga orang pemuda yang sedang berada di puncak usia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=489&subd=faridul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><span style="text-decoration:underline;"><em>serial pengorbanan]: DEMI RASULKU YANG TERCINTA</em></span></strong></p>
<div><strong>Oleh: Engr. Faridul Farhan Abd Wahab</strong> “bisakah ketemu al-Musthafa di Syurga?”</div>
<div>Tatkala duduk Umar Abdul Aziz di atas mimbar dewan pada hari pertama kekhalifahannya, datang orang ramai mengucapkankan tahniah di atas pemerintahan yang, di kemudian harinya, memahat legacynya yang tersendiri. Selanjutnya, masuk tiga orang pemuda yang sedang berada di puncak usia kemudaan, lalu langsung duduk di atas kerusi. Pantas bertanya sang amirul mukminin; “anak siapakah kalian?”</p>
<p>Jawab pemuda pertama; “Anak gabenor Basrah pada masa pemerintahan Abdul Malik ibnu Marwan.” Umar ibnu Abdul Aziz diam tak berkata.</p>
<p>“Aku anak salah seorang panglima pasukan yang ada di bawah pimpinan al-Walid ibnu Abdul Malik,” jawab pemuda kedua. Terdiam juga sang khalifah, tidak ada apa yang boleh menarik minatnya.</p>
<p>Tiba giliran pemuda ketiga. “Aku adalah anak Qatadah ibnu Nu’man al-Anshari, yang matanya terluka dalam perang Uhud bersama Rasulullah SAW hingga bola matanya keluar sampai ke pipinya, kemudian Rasul SAW mengembalikan matanya itu ke tempatnya dengan tangannya yang mulia.”</p>
<p>Umar ibnu Abdul Aziz pun meneteskan air matanya dan menoleh kepada pemuda itu seraya berkata: “Itulah kemuliaan yang sesungguhnya, bukan seperti sewadah susu dicampur dengan air, kemudian sesudah itu keduanya menjadi air seni.” [1]</p>
<p>Di saat yang lain, Abu Ubaidah menggigit kepingan rantai topi besi yang singgah di kedua pipi Nabi SAW yang mulia, dengan menggunakan giginya, lantaran khuatir akan menyakiti Rasulullah SAW, hingga giginya serinya sendiri goyah. Demikian Abu Bakar mahu mencabut kepingan besi yang lain, berkata Abu Ubaidah, “Demi ALLAH, aku mohon kepadamu wahai Abu Bakar, biarlah kutangani sendiri!” [2]</p>
<p>Medan Uhud telah menjadi saksi akan kehebatan dan kebesaran jiwa para sahabat. Di tangan mereka, pengorbanan mendapat makna yang baru, bahkan lebih mendalam: iaitu cintakan Rasul SAW. Di hati sanubari mereka, Rasul-Nya SAW sentiasa hidup, hingga wajarlah hari-hari mereka dipenuhi pengorbanan-pengorbanan, yang memakamkan nama mereka dengan seribu satu karya kebesaran terhadap agama tercinta ini.</p>
<p><em>Di dalam hatiku selalu terdengar suara Nabi<br />
Yang memerintahkan;<br />
“Berjihadlah, berjuanglah, dan lelahkan dirimu”<br />
dan berseru;<br />
“menanglah, tuntutlah dan berlatihlah<br />
dan juga berseru;<br />
“jadilah kamu selamanya<br />
orang yang merdeka lagi pantang menyerah” [3]<br />
</em><br />
Tidak hairanlah, cinta sering membuahkan kegilaan, yang tersurat di balik sebuah pengorbanan. Tapi, cinta yang tulus pada Rasul, menjadikan kemuliaan tersirat di balik pengorbanan itu. Ia umpama matahari yang menyinari tanaman: tanaman hidup tinggi menggapai awan. Sedang cinta yang batil sekadar menyirap kegelapan di balik makna pengorbanan itu. Lalu sang tumbuhan pun tumbuh layu menanti saatnya mati dan dibasmikan.</p>
<p><em>Dengar, Sahabat,<br />
Cinta bagaikan matahari<br />
Hati tanpa cinta<br />
Tak lain adalah sekeping batu! [4]<br />
-Kabakli</em></p>
<p>Cinta Rasul umpama urat nadi, dan pengorbanan itu gerak langkah, yang mendapat sumber kekuatannya dari denyutan urat nadi dan degupan jantung itu. Bukankah hati yang cinta menghasilkan degupan jantung yang lebih kencang?</p>
<p>Lalu peristiwa besar pun muncul. Umat yang tadinya tidak mengenal suatu aturan, lebih mudah diatur. Suatu umat yang tadinya tidak mengenal ketaatan, akan ditanami ketaatan. Apalagi ketaatan terhadap kebenaran, bukan pada kebatilan. Itulah suatu babak kemenangan yang baru dalam sejarah penyadaran bangsa Arab [5].</p>
<p>Cinta Rasul-lah yang mengilhamkan Aus dan Khazraj yang selamanya bermusuh untuk mengorbankan keegoan dan kepentingan masing-masing demi sebuah episod baru dalam diari kehidupan; iaitu persaudaraan. Hinggakan watak-watak yang saling kontradiktif –bak kata al-Maududi tatkala mahu memberikan gambaran yang mudah tapi indah tentang Islam [6]- bisa bahu-membahu seperti sepasang tubuh yang menggabungkan beraneka jenis kepelbagaian: pendengaran, penglihatan, pertuturan, gerak tangan, gerak kaki, dan lain-lain fungsi kehidupan. Itulah keajaiban dan kebijaksanaan Tuhan. ALLAH tidak menganugerahkan skill kehidupan ini secara setara kepada manusia, hinggakan manusia tidak merasa ketidak-perluan terhadap manusia lainnya. Tetapi saling kepelbagaiannya kita, bahkan menjadikan kita umpama sebuah pasukan bola sepak: ada strikernya, ada midfieldnya, ada defendernya, ada keepernya, ada simpanannya, ada tukang soraknya, ada tukang cemuhnya, ada tukang bancuh airnya… Namun setiap satu saling berinteraksi dengan yang lainnya. Satu saling memperlengkap yang lain-lainnya.</p>
<p>Maka tumbuhkanlah cinta Rasul dalam hatimu, agar pengorbanan bisa terwatak kembali di atas pentas kehidupan, lalu kemudian bercambah menjadi “hero-hero” yang mendominasi “pawagam ketamadunan”.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">RUJUKAN</span></strong></p>
<p>[1] Dr. ‘Aidh bin ‘Abdullah al-Qarni, “Hidupkan Hatimu (ilallazina asrafu ‘ala anfusihim)”, Irsyad Baitus Salam (2006), ms. 31-32</p>
<p>[2] Syaikh Shafiyyur-Rahman al-Mubarakfury, “Sirah Nabawiyah (ar-Rahiqul Makhtum, Bahtsun fis-Sirah an-Nabawiyah ala Shahibiha Afdhalish-shalati was-salam)”, Pustaka al-Kautsar (2000), ms. 350-351</p>
<p>[3]      Muhammad Ahmad ar-Rasyid, “Pelembut Hati (ar-Raqa’iq)”, Robbani Press (2003), ms. 277</p>
<p>[4]      Yunasril Ali, “Jatuh Hati Pada Ilahi”, PT Serambi Ilmu Semesta (2003)</p>
<p>[5]      Sa’id Hawwa, “Ar-Rasul Muhammad SAW”, CV Pustaka Mantiq (1991), ms. 516-517</p>
<p>[6]      Abul A’la Maududi, “Towards Understanding Islam,” Islamic Foundation (1973), pg. 28</p></div>
<div></div>
<div>faridul.blogspot.com, published June 25 2007</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/faridul.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/faridul.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/faridul.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/faridul.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/faridul.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/faridul.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/faridul.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/faridul.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/faridul.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/faridul.wordpress.com/489/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=489&subd=faridul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faridul.wordpress.com/2009/11/25/arkib-serial-pengorbanan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3488bb6e705d1c5017253d46a835d400?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[arkib]: Serial Pengorbanan</title>
		<link>http://faridul.wordpress.com/2009/11/25/arkib-serial-pengorbanan/</link>
		<comments>http://faridul.wordpress.com/2009/11/25/arkib-serial-pengorbanan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 02:38:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faridul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faridul.wordpress.com/?p=487</guid>
		<description><![CDATA[Bersempena Aidil Adha ini, saya kongsikan kembali artikel-artikel lama saya berkenaan Adil Adha. Enjoy!
&#160;
serial pengorbanan]: ORANG BESAR
Oleh: Faridul Farhan Abd Wahab “tubuh kecil, jiwa besar”

Dia hanyalah seorang wanita. Tapi, kewanitaan itu tidak menghalangnya melangkah berani dan gagah mendokong kebenaran Ilahi. Hameedah Qutb tetap tegar dan tabah, sungguh pun disiksa dengan pelbagai cara, malah dipujuk untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=487&subd=faridul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bersempena Aidil Adha ini, saya kongsikan kembali artikel-artikel lama saya berkenaan Adil Adha. Enjoy!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em><span style="text-decoration:underline;">serial pengorbanan]: ORANG BESAR</span><br />
Oleh: Faridul Farhan Abd Wahab</em></strong> <em>“tubuh kecil, jiwa besar”<br />
</em><br />
Dia hanyalah seorang wanita. Tapi, kewanitaan itu tidak menghalangnya melangkah berani dan gagah mendokong kebenaran Ilahi. Hameedah Qutb tetap tegar dan tabah, sungguh pun disiksa dengan pelbagai cara, malah dipujuk untuk mengakui perbuatan yang tidak dibuat oleh dirinya,[1] namun tetap unggul sebagai individu yang “besar”.</p>
<p>Barangkali keluarga Qutb ini memang mempunyai baka yang hebat. Bukan saja Syed Qutb seorang, bahkan adik-beradiknya yang lain, hatta hingga adik perempuannya bernama Hameedah Qutb, bisa muncul sebagai manusia-manusia “besar”, di saat lelaki-lelaki lain hidup bak pengecut berjiwakan kekerdilan. Lalu Syed mengungkapkan rahsianya; “orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang yang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.” [2]</p>
<p>Ertinya, “kebesaran” orang itu bukanlah diukur dari sisi pangkatnya. Tidak juga dari sudut keturunannya. Tapi, “kebesaran” seseorang itu, justeru dilihat dari sejauh mana hidupnya itu buat orang lain. Hidupnya itu untuk umat. Dirinya itu milik umat. Dan nyawanya itu diakhiri buat menyalakan pelita umat.</p>
<p>Tidak hairanlah Umar al-Khattab, di saat memenuhi appointment para sahabatnya di zaman kekhilafahannya, mendahulukan Bilal, kemudian Shuhaib, kemudian Salman, kemudian Ibnu Mas’ud, sehingga memetik suis kebengangan Abu Sufyan. “Aku tidak mengira bila Umar membuatku lama menanti sesudah mereka masuk terlebih dahulu sebelumku,” keluh Abu Sufyan kemarahan.</p>
<p>Namun, Umar punya parameternya yang tersendiri, tatkala memilih “orang besar” yang harus ia utamakan. Maka sang bijak Suhail Ibnu ‘Amr pun menegur, “Wahai Abu Sufyan, demi ALLAH, aku tidak peduli dengan pintu ‘Umar dan izinnya. Akan tetapi, aku khuatir bila kita dipanggil pada hari kiamat nanti, maka mereka akan masuk Syurga, sedang kita ditinggalkan, kerana sesungguhnya mereka dan kita ketika diseur, ternyata merekalah yang menyambutnya, sedang kita terlambat. Mereka telah mengenal, sedang kita mengingkari. Oleh kerana itu, pantaslah bila mereka didahulukan, sedang kita dikemudiankan.” [3]</p>
<p>Aduh, apalah kebesaran pada pangkat dan kekayaan seorang Abu Sufyan, berbanding pengorbanan dan keteguhan seorang Bilal, yang tetap tegar diseksa di atas padang pasir di tengah panas yang terik, sambil mulut tetap mantap mengungkapkan kalimah kebesaran: “Ahad!ahad!”</p>
<p>Maka kebesaran itu –sekali lagi- bukanlah pada kekayaan. Bukan juga pada keturunan. Apatah lagi pada gelaran. Bahkan, “orang besar” itu, bukanlah mereka yang mengendarai Mercedes atau BMW, tetapi mereka yang mengendarai “kenderaan kemuliaan”, dipandu oleh keimanan, diputar oleh roda keberaniaan, dikusyen oleh kerusi kesabaran, dan distartkan oleh pengorbanan. Itulah orang-orang yang besar: mereka yang darah dan air matanya milik umat, bukan membangun kekayaan di atas wang dan jerih perih umat!</p>
<p>Maka apalah ada pada gelaran “datuk” buat para artis wanita, dibanding gelar “mujahidah” buat “orang besar” wanita, umpama Zainab al-Ghazali mahu pun Hameedah Qutb?</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">RUJUKAN</span></strong></p>
<p>[1] Riduan Mohammad Nor, “Sejarah &amp; Perkembangan Gerakan Islam Abad Moden”, MHI Publication (2007), ms. 39-41</p>
<p>[2] Anis Matta, “Mencari Pahlawan Indonesia”, The Tarbawi Center (2004), ms. 15</p>
<p>[3] Dr. ‘Aidh bin ‘Abdullah al-Qarni, “Hidupkan Hatimu,” Irsyad Baitus Salam (2006), ms. 24-25</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: faridul.blogspot.com, published July 4 2007</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/faridul.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/faridul.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/faridul.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/faridul.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/faridul.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/faridul.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/faridul.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/faridul.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/faridul.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/faridul.wordpress.com/487/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=487&subd=faridul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faridul.wordpress.com/2009/11/25/arkib-serial-pengorbanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3488bb6e705d1c5017253d46a835d400?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kelembutan Yang Syumul</title>
		<link>http://faridul.wordpress.com/2009/11/21/kelembutan-yang-syumul/</link>
		<comments>http://faridul.wordpress.com/2009/11/21/kelembutan-yang-syumul/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 23:32:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faridul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faridul.wordpress.com/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[Kelembutan. Itulah ssuatu sifat, yang oleh banyak orang sangat diimpikannya. Tidak mesti pada dirinya sendiri, tetapi sering merindukan sifat itu pada orang lain disekitarnya. Seperti seorang pekerja mengharap secebis kelembutan daripada majikannya, apath lagi di saat ia berada di posisi “pesalah” terhadp hal-ehwal kerjanya. Atau, seorang suami mendambakan kelembutan sang isterinya, di saat-saat sukar lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=485&subd=faridul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kelembutan. Itulah ssuatu sifat, yang oleh banyak orang sangat diimpikannya. Tidak mesti pada dirinya sendiri, tetapi sering merindukan sifat itu pada orang lain disekitarnya. Seperti seorang pekerja mengharap secebis kelembutan daripada majikannya, apath lagi di saat ia berada di posisi “pesalah” terhadp hal-ehwal kerjanya. Atau, seorang suami mendambakan kelembutan sang isterinya, di saat-saat sukar lagi sulit yang mengkusut-masaikan relung pemikirannya. Atau, seorang ibu seorang ayah, yang menginginkan kelmbutan layanan daripada anaknya, saat keduanya sudah menginjka usia-usia emas yang berharga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tidak hairanlah, kelembutan, pada apa pun maknanya, baik itu <em>Rahmah</em>, atau <em>Rifq</em>, atau <em>Hilm</em>, di sebut-sebut sebagai antara sifat para pendakwah oleh Jum’ah Amin Abdul Aziz. Lantaran menyedari betapa lawan kepada kelembutan, kekerasan dan penekanan, bisa menyebabkan manusia lari dari sekelilingmu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Maka dek kerana rahmat ALLAH, bersikap lemah lembutlah kamu kepada mereka. Jika kamu bersikap kasar lagi berhati keras, nescaya mereka akan menjauhkan diri daripada mu&#8230;”</em></p>
<p><em>(Surah Ali Imran [3]:159)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Di situlah kalian jumpa kelembutan seorang rasulullah. Sensitiviti seorang Abu Bakr. Malunya seorang Usman al-affan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di sanalah, pada kelembutan yang menatijahkan sebuah <em>tazkiyatun nafs </em>(penyucian jiwa) pada pelakunya, kalian jumpa seorang Umar al-Khatttab di waktu kekhilafahannya, hingga sering didapati menangis lantaran zuhud dalam menilai dirinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Atau, kelembutan para tok-guru-tok-guru, yang senantiasa kaya dengan senyuman teduh di wajahnya, hingga bisa meresap masuk ke dalam umat, lalu menadah kitab berhadapan sebagai murid-muridnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun, kelembutan itu tetap pada tempatnya. Ia seakan strategi <em>defensive </em>yang ampuh untuk menarik minat manusia ke arahnya. Namun, sifat <em>offensive </em>tetap perlu guna mengimbangi sekaligus mempertahankan risalah suci ini daripada musuhnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka ada cerita dakwah Rasulullah secara bergusti dengan Abu Rukanah. Atau seorang Abu Bakar yang bercakap serba kasar dengan para petinggi Quraisy di saat perjanjian Hudhaibiyah. Atau ketegasan seorang Ali ketika mempertahankan kalimah <em>ar-Rahman </em>pada tulisan <em>basmalah </em>serta <em>Rasulullah </em>pada perkataan Muhammad.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di sana, jihad menjadi senjata <em>offensive </em>di dalam dakwah, seperti mana kelembutan berperanan sebagai senjata <em>defensive penarik mad’u ke dalam dakwah.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka seimbangkanlah kelembutan dan ketegasanmu wahai umat, seperti mana seimbangnya para pendahulu kita di arena dakwah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“..mereka (hizbullah) mencintainya, mereka bersikap rendah diri terhadap orang mukmin, tetapi mempunyai harga diri yang tinggi di hadapan orang-orang Kafir&#8230;”</em></p>
<p><em>(Surah al-maidah [5]:54)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Muhammad itu Rasulullah. Dan orang-orang yang beriman bersamanya bersikap keras terhadap orang kafir, tetapi saling mengasihi sesama mereka&#8230;”</em></p>
<p><em>(Surah al-Fath [48]:29)</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/faridul.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/faridul.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/faridul.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/faridul.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/faridul.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/faridul.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/faridul.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/faridul.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/faridul.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/faridul.wordpress.com/485/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=485&subd=faridul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faridul.wordpress.com/2009/11/21/kelembutan-yang-syumul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3488bb6e705d1c5017253d46a835d400?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[serial nikah]: Malang ibubapa hari ini</title>
		<link>http://faridul.wordpress.com/2009/11/21/serial-nikah-malang-ibubapa-hari-ini/</link>
		<comments>http://faridul.wordpress.com/2009/11/21/serial-nikah-malang-ibubapa-hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 23:11:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faridul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faridul.wordpress.com/2009/11/21/serial-nikah-malang-ibubapa-hari-ini/</guid>
		<description><![CDATA[[serial nikah]: Malang ibubapa hari ini
 
Tidakkah kalian kasihan melihat mereka yang menjadi ibubapa hari ini. Serba-serbi salah. Serba-serbi tak betul. Masa tua mereka seakan kelam, dek kerana anak yang diasuh sejak di alam rahim, hingga beransur menginjak dewasa, tidak pandai menghargai diri, usaha dan perasaan insan-insan mulia ini.
Jika dulu, ibubapa mengimpikan anak yang terpelajar. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=482&subd=faridul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><em><span style="text-decoration:underline;">[serial nikah]: Malang ibubapa hari ini</span></em></strong></p>
<p><strong><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></strong></p>
<p>Tidakkah kalian kasihan melihat mereka yang menjadi ibubapa hari ini. Serba-serbi salah. Serba-serbi tak betul. Masa tua mereka seakan kelam, dek kerana anak yang diasuh sejak di alam rahim, hingga beransur menginjak dewasa, tidak pandai menghargai diri, usaha dan perasaan insan-insan mulia ini.</p>
<p>Jika dulu, ibubapa mengimpikan anak yang terpelajar. Yang berpendidikan tinggi. Yang, semoga dengan ilmunya, ibu-ayah akan dimuliakan seperti seharusnya. Tetapi, ternyata panas yang diharapkan berkepanjangan, mendung tiba di pertengahan jalan. Fenomena anak kurang ajar, biadap, dan tidak beradab kepada ibubapa justeru tidak hanya dilakukan oleh anak-anak malas dan tidak berpendidikan, bahkan anak-anak terpelajar dan berpangkat tinggi pun bisa memarahi, menengking, dan memperlekehkan ibubapanya. Bahkan, sudah lebih daripada <em>“uffin” </em>yang dilarang oleh al-Quran (surah al-Isra’ [17]:23), menyangkut soal menjawab, memperlekeh sambil meninggikan suara kepada ibu-ayah mereka, hanya lantaran mereka merasa mereka lebih “tinggi”, lebih “mulia” daripada kedua insan yang banyak berjasa itu.</p>
<p>Lalu, <em>trend </em>impian orang tua bertukar kepada kecenderungan anak untuk beragama. Mereka menyangka, apabila anak-anak mereka mendekati agama, sejuk ibu mengandung itu, mudah-mudahan bisa menjadi saham pahala berterusan mereka di perkampungan abadi kelak, tatkala anak soleh mereka dengan jayanya tahu mendoakan kedua ibubapanya secara berpanjangan. Lantas tidak hairanlah sekolah-sekolah agama swasta, pusat-pusat tahfiz, dan yang sewaktu dengannya, menjadi pilihan ibubapa dewasa ini.</p>
<p>Namun, sekali lagi, sejuk ibu mengandung ternyata menjadi panas neraka selepas kira-kira suku abad kemudiannya. Anak-anak yang diharapkan membahagiakan diri dan perasaan ibubapa hasil dari pembentukan di dalam usrah, ceramah, atau sekolah dan pendidikan agama formal lainnya, bahkan berubah menjadi <em>“aba wastakbar” </em>(surah al-Baqarah [2]:34) lantaran merasa lebih mulia daripada mereka. Pada mereka (anak-anak), syeikh atau jemaah mereka adalah segalanya, bahkan melebihi nilai kemuliaan dan pengorbanan para ibubapa.</p>
<p>Tiba-tiba, pengajian mereka yang baru secumit cuma, seakan lebih berjasa berbanding pengabdian selamanya ibubapa untuk mengasuh dan mendidik mereka.</p>
<p><em>“Dan rendahkanlah dirimu terhadap kedua ibubapa dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah ; “Wahai Tuhanku, sayangilah/ rahmatilah keduanya seperti mana mereka mentarbiyyah aku sejak aku masih kecil”</em></p>
<p><em>(Surah al-Isra’ [17]:24)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kesedaran <em>shohwah islamiyah </em>(kebangkitan islam) mereka, Alhamdulillah telah menyedarkan mereka kepentingan nikah. Cuma, sayangnya, dalam menyedari kepentingan nikah, mereka seakan terlupa pula kepentingan berkeluarga. Walhal, nikah itu memangnya untuk membentuk keluarga. Dan bagaimana mahu berkeluarga, andai ibubapa anda sudah anda abaikan?</p>
<p>Alasan ibubapa tidak memahami atau menghalang niat suci kalian, atas alasan “tiada fikrah”<em>, </em>justeru tidak menjadi alasan untuk anda mengabaikan atau mengenepikan mereka daripada urusan pernikahan. Bahkan sering terjadi, menghalangnya ibubapa terhadap niat sang aktivis dakwah itu untuk menikah, memang ada asas-asasnya, yang memberikan kesimpulan kepada kita akan betapa <em>concern</em>nya mereka terhadap masa hadapan anaknya. Misalnya sang anak belum habis belajar, sang anak kurang bertanggungjawab, sang anak kelihatannya kurang matang, biarpun ego sang anak sebagai aktivis melihat dirinya itu dari kaca mata sebaliknya.</p>
<p>Oh ibubapa hari ini, malang sungguh nasibmu. Ada anak jahat pun salah. Ada anak soleh pun salah. Bagaimana agaknya nasib aku dan isteri, di kemudian hari?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/faridul.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/faridul.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/faridul.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/faridul.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/faridul.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/faridul.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/faridul.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/faridul.wordpress.com/482/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/faridul.wordpress.com/482/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/faridul.wordpress.com/482/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=482&subd=faridul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faridul.wordpress.com/2009/11/21/serial-nikah-malang-ibubapa-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3488bb6e705d1c5017253d46a835d400?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[serial nikah]: Kepentingan &#8220;Orang Tengah&#8221;</title>
		<link>http://faridul.wordpress.com/2009/11/18/serial-nikah-kepentingan-orang-tengah/</link>
		<comments>http://faridul.wordpress.com/2009/11/18/serial-nikah-kepentingan-orang-tengah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 12:02:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faridul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faridul.wordpress.com/2009/11/18/serial-nikah-kepentingan-orang-tengah/</guid>
		<description><![CDATA[[serial nikah]: Kepentingan “Orang Tengah”
 
Bisakah anda bayangkan perlawanan bola sepak tanpa pengadil, atau mahkamah tanpa hakim, atau sekolah tanpa pengawas? Perlawanan bola sepak tetap bisa berlangsung, tetapi pergaduhan yang terletus, atau ketidak puas hatian yang membarah, atau keputusan yang dipertikai, adalah natijah perlawanan tanpa seseorang yang menjaga ruang pengadilan.
&#160;
Begitu juga dengan mahkamah tanpa seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=481&subd=faridul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><em><span style="text-decoration:underline;">[serial nikah]: Kepentingan “Orang Tengah”</span></em></strong></p>
<p><strong><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></strong></p>
<p>Bisakah anda bayangkan perlawanan bola sepak tanpa pengadil, atau mahkamah tanpa hakim, atau sekolah tanpa pengawas? Perlawanan bola sepak tetap bisa berlangsung, tetapi pergaduhan yang terletus, atau ketidak puas hatian yang membarah, atau keputusan yang dipertikai, adalah natijah perlawanan tanpa seseorang yang menjaga ruang pengadilan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitu juga dengan mahkamah tanpa seorang hakim. Siapakah yang mahu mengawal aturan dan ketenteraman ruang pengadilan, terutamanya di saat suasana berbaur ketegangan? Dan siapa pula yang mahu menjaga kedamaian dan kenyamanan suasana sekolah, atau menenangkan rakan daripada meletuskan perbalahan, atau menjadikan perjalanan persekolahan serba teratur, andai tiada yang menjadi pengawas sekolah?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitulah lumrahnya. Individu sebegini penting justeru bukan sahaja sebagai “pemegang kuasa”, tetapi lebih kepada “pemegang suasana.” Mendamaikan di kala perbalahan. Menenangkan di  saat ketegangan. Mengaturkan di waktu kekusutan. Menyatukan di ketika hampir terjadi perpisahan. Atau, dalam istilah yang lain, merekalah “orang tengah” yang senantiasa mewarnai kita di atas kanvas kehidupan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitu juga dengan perkahwinan, peran orang tengah tetap berkepanjangan. Hingga, al-Quran sahaja menunjuk kepada peranan orang tengah, sebagai nahkoda yang mengemudi perkahwinan agar selamat sampai di pelabuhan, di saat ombak gelora yang memukulkan. Dan siapakah yang lebih baik sebagai orang tengah, jika bukan ahli keluarga kita?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>“Dan jika kamu khuatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang <span style="text-decoration:underline;">juru damai dari keluarga</span> lelaki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan&#8230;.”</em></strong></p>
<p><strong><em>(Surah an-Nisa’ [4]:35)</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Apakah perceraian itu sudah terjadi? Belum lagi, lantaran ALLAH menyebut <em>“<strong>fain khiftum</strong>” </em>“jika kamu takut/ khuatir.” Maksudnya, hint-hint ombak badai sudah boleh dihidu oleh keluarga biar belum mereka nyatakan. Tetapi, bagaimana bisa meraka menunaikan tanggung jawab untuk <em>concern </em>kepada perkahwinan kita, andai sejak awal kita sudah menolak, menafi dan menidakkan peranan keluarga?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahkan siapalah yang lebih baik sebagai orang tengah, lagi bisa menutup aib daripada tersebar ke sekitar masyarakat, jika bukan keluarga tercinta? Lalu muncullah jaminan dari Sang Esa;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>“&#8230;jika keduanya (juru damai/ orang tengah itu) bermaksud mengadakan perbaikan, maka ALLAH member taufiq kepada suami-isteri itu. Sungguh, ALLAH Maha Mengetahui, Maha Teliti”</em></strong></p>
<p><strong><em>(Surah an-Nisa’ [4]:35)</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nah, adakah keluarga kalian, kalian layan sebagai “orang seberang”, berbanding “orang tengah” yang sangat berperanan? Atau, kalian justeru tidak pandai mengukur, lantas menyangka seberang itu lebih hampir berbanding yang di tengah. Hmmm&#8230;.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/faridul.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/faridul.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/faridul.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/faridul.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/faridul.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/faridul.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/faridul.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/faridul.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/faridul.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/faridul.wordpress.com/481/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=481&subd=faridul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faridul.wordpress.com/2009/11/18/serial-nikah-kepentingan-orang-tengah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3488bb6e705d1c5017253d46a835d400?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[serial nikah]: Penghormatan terhadap para wali</title>
		<link>http://faridul.wordpress.com/2009/11/17/serial-nikah-penghormatan-terhadap-para-wali/</link>
		<comments>http://faridul.wordpress.com/2009/11/17/serial-nikah-penghormatan-terhadap-para-wali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 05:48:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faridul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faridul.wordpress.com/2009/11/17/serial-nikah-penghormatan-terhadap-para-wali/</guid>
		<description><![CDATA[[serial nikah]: Penghormatan terhadap para wali
&#160;
Lihatlah betapa Islam memartabatkan peranan sang ibu dan sang ayah, hingga meletakkan “wali” sebagai salah satu arkanul nikah (rukun nikah). Bukan berti sang wali memegang hak mutlak dalam penentuan terlaksananya akad nikah, ijab Kabul, berseminya cinta dua jiwa –kerna di sana, masih ada yang namanya wali hakim- tetapi justeru antara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=480&subd=faridul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><em><span style="text-decoration:underline;">[serial nikah]: Penghormatan terhadap para wali</span></em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lihatlah betapa Islam memartabatkan peranan sang ibu dan sang ayah, hingga meletakkan “wali” sebagai salah satu <em>arkanul nikah</em> (rukun nikah). Bukan berti sang wali memegang hak mutlak dalam penentuan terlaksananya akad nikah, ijab Kabul, berseminya cinta dua jiwa –kerna di sana, masih ada yang namanya wali hakim- tetapi justeru antara justifikasi yang paling paripurna tentang betapa <em>essential</em>nya wali di sana boleh disumpulkan seperti berikut: penghargaan terhadap ibu dan bapa!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lantas, buat anak-anak muda yang sudah semakin lupa akan segala jasa dan pengorbanan para orang tuanya, lantaran sudah mabuk dilamun “cinta”, Islam ingin menarik kembali mereka kepada suatu hakikat yang sudah semakin dilupakan: bahawa perkahwinan itu bukan hanya melibatkan dua jiwa, bahkan ia turut melibatkan dua keluarga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hingga, demikian Yusuf Qardhawi menyingkapkan rahsia pernikahan Nabi Saw dengan isteri-isterinya, <em>Fatwa Muasshirah </em>merakamkan betapa antara rahsia pernikahannya itu justeru didorong oleh niat dakwah terhadap keluarga dan kabilah isterinya. Betapa pernikahan, bisa membawa seluruh keluarga sang pengantin untuk tunduk menyungkur di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bukankah Abu Thalhah menyemai cinta jihadnya dengan Ummu Sulaim, diawalnya berdasarkan cinta manusia, sebelum tersemai lalu bercambah menjadi cinta yang Esa? Hingga, para ahli <em>rijalul hadith </em>menyatakan, Ummu Sulaim justeru meletakkan syarat kepada Abu Thalhah, yang ketika itu masih kafir, untuk menjadikan Syahadahnya sebagai mahar perkahwinan. Apakah yang terjadi kemudian? Abu Thalhal keluar di jalan jihad, untuk pulang mendapatkan anak yang ditinggalkannya dalam keadaan sakit, sudah kembali menuju haribaan Tuhannya. Tidak cukup besarkah jiwa jihad seperti itu? Yang, kemudian didoakan oleh Nabi SAW moga beroleh zuriat para huffaz belaka, demikianlah bab Sabar <em>Riyadhus Shalihin </em>merakamkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Atau, hikmah hanya lelaki dibenarkan menikahi wanita ahli kitab, berbanding pengharaman untuk wanita melakukan sebaliknya, bukankah untuk sebuah urusan dakwah? Bukankah mengharapkan penikahan itu, justeru membawa sang isteri ke pangkuan Islam?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Indahnya pernikahan, kerana membawa sinar Keislaman, sinar persaudaraan, sinar persahabatan kepada dua keluarga. Atau masyarakat sekitarnya. Atau Negara jua. Hanya, ketika hikmah kekeluargaan dihargai dalam pernikahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nah, masih mahu mengabaikan para wali, orang tua kalian?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/faridul.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/faridul.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/faridul.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/faridul.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/faridul.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/faridul.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/faridul.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/faridul.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/faridul.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/faridul.wordpress.com/480/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=480&subd=faridul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faridul.wordpress.com/2009/11/17/serial-nikah-penghormatan-terhadap-para-wali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3488bb6e705d1c5017253d46a835d400?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[serial nikah]: Walimah pengelak fitnah</title>
		<link>http://faridul.wordpress.com/2009/11/17/serial-nikah-walimah-pengelak-fitnah/</link>
		<comments>http://faridul.wordpress.com/2009/11/17/serial-nikah-walimah-pengelak-fitnah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 16:33:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faridul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faridul.wordpress.com/2009/11/17/serial-nikah-walimah-pengelak-fitnah/</guid>
		<description><![CDATA[[serial nikah]: Walimah pengelak fitnah
 
Tentu ada hikmah yang penting, hingga Nabi Saw mewajibkan kehadiran ke walimah. Sebab, sifat walimah itu sendiri, terkandung seribu satu makna yang luar biasa.
&#160;
Bukan, bukan untuk bermewah-mewah sambil membazir tujuannya. Atau, mendapatkan “pendapatan tambahan” hingga menjemput hanya sang kaya lalu meminggirkan sang faqir perancangannya. Atau, menjadi tempat di mana “harga” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=478&subd=faridul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><em><span style="text-decoration:underline;">[serial nikah]: Walimah pengelak fitnah</span></em></strong></p>
<p><strong><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></strong></p>
<p>Tentu ada hikmah yang penting, hingga Nabi Saw mewajibkan kehadiran ke walimah. Sebab, sifat walimah itu sendiri, terkandung seribu satu makna yang luar biasa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bukan, bukan untuk bermewah-mewah sambil membazir tujuannya. Atau, mendapatkan “pendapatan tambahan” hingga menjemput hanya sang kaya lalu meminggirkan sang faqir perancangannya. Atau, menjadi tempat di mana “harga” yang tinggi untuk sang pingitan lewat hantarannya itu, dilaburkan sepuas-puasnya. Tidak, tidak!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tetapi, justeru antara sebab yang paling jitu dianjurkan, atau di sunnah muakkadahkan walimah itu –demikian menurut jumhur- sebagai sarana “pengiklanan” kepada umum, akan telah bersatunya dua mempelai. Bertemunya dua jiwa. Bersamanya dua raga. Pungguk tidak lagi perlu merindukan bulan. Laila sudah bisa siuman dari majnunnya yang berpanjangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pengiklanan, justeru hal itu sangat perlu. Kerana sifat Islam, sejak awal lagi ialah <em>sadduz zara’i, </em>yakni menutup pintu fitnah. Islam tidak hanya mahu <span style="text-decoration:underline;">menghukum</span> para pemfitnah dengan dosa yang lebih <em>afdhal </em>dari membunuh, tetapi Islam justeru sangat bersungguh untuk <span style="text-decoration:underline;">menghalang</span> umatnya daripada memperoleh dosa tersebut. Itulah sebabnya, lorong-lorong yang bisa membawa kepada fitnah sahaja, pun disuruh untuk ditutup.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nah, bagaimana mungkin aktivis dakwah dewasa ini. Merasa dirinya serba serbi sempurna, dan para ibu bapanya seakan terlalu hina. Lalu, memilih perkahwinan rahsia, demi mengelak campur tangan dan halangan daripada keluarga. Ke mana hilangnya syariat walimah? Ke mana perginya pengiklanan pengelak fitnah? Apakah dakwah itu justeru mewajibkan mereka menikah tergesa-tega, lalu menghiris hati ibu bapa untuk selamanya? Sejak bila walimah pula menjadi fitnah, walhal, justeru berahsia itulah penyebab fitnah?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pengiklanan, itulah sarana kita bermasyarakat. Maka, tidakkah dakwah itu juga “ke” masyarakat? Dan pernikahan itu pun, langkah awal untuk kita <em>reach out to </em>masyarakat?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/faridul.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/faridul.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/faridul.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/faridul.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/faridul.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/faridul.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/faridul.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/faridul.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/faridul.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/faridul.wordpress.com/478/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=faridul.wordpress.com&blog=1486865&post=478&subd=faridul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faridul.wordpress.com/2009/11/17/serial-nikah-walimah-pengelak-fitnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3488bb6e705d1c5017253d46a835d400?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridul</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>