KISAH INI KISAH CINTA

KISAH INI KISAH CINTA

Abu Mundzir Faridul Farhan “Aku memang pencinta agama…” 

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak cinta kepada orang-orang yang melampaui batas.”(Surah al-Baqarah [2]:190) 

Rabb Yang Maha Kuasa ALLAH Azza Wa Jalla, demikian mahu memberikan “warning” peringatan kepada kaum yang telah melampaui batas, tidak membidas mereka melainkan dengan memperingatkan mereka akan mesej “cinta”. Bahkan hatta kepada kaum zalimun dan lain seumpanya pun, tetap ALLAH memperingatkan akan mesej ini; betapa ALLAH “tidak cinta” pada mereka ini.  

Nada yang diperingatkan ALLAH buat mereka ini –iaitu nada “tidak cinta”- berbeza dengan nada ketika ALLAH berbicara kepada kaum Yahudi[1], atau kaum yang sudah dilaknati[2]. Di sana, ALLAH langsung menggunakan istilah “marah” atau “murka”, seperti yang difirmankannya di penghujung al-Fatihah. Tetapi, buat mereka yang sekadar menyimpang ke arah kezaliman, melampaui batas dan yang sewaktu dengannya[3] dengan tetap mempunyai harapan untuk kembali ke pintu pertaubatan, maka ALLAH tak henti-henti melantunkan mesej “cinta”NYA buat mereka, lantaran cintalah pengertian dan dasar hidup segala-galanya. 

Lalu, dengan mesej “cinta” ini jualah, baginda Nabi SAW memulai episod risalahnya. 

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung”(Surah at-Taubah [9]:128-129) 

Bahkan mesej cinta ini turut disebarkannya, hingga melimpah ke seluruh pelusuk alam, seperti mana jua mesej “ar-Rahman” atau “Sang Pencinta” kekasih baginda –ALLAh Azza Wa Jall- nukilkan terhadap sekalian alam, lalu terpotret di dalam surah ke-55 di dalam kalam-NYA (surah ar-Rahman). 

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat(cinta) bagi semesta alam.”(Surah al-Anbiya’ [21]:107) 

Hinggakan Iqbal menyimpulkan episod risalah cinta baginda Nabi SAW ini di dalam puisinya[4]; “Kalau saja aku adalah Muhammad, aku tidak akan pernah turun lagi ke  bumi setelah sampai di Sidratul Muntaha.” Begitulah, risalah cinta seorang Nabi telah sudi mengorbankan kenyamanan, ketenangan, kedamaian dan kebahagian berada di sisi Rabbnya di Sidratul Muntaha, untuk menyelesaikan misi cintanya dalam sebuah episod penuh kedukaan, kesakitan, kesulitan, penghinaan, dek kecintaannya terhadap umat yang terlalu mendalam. 

Sedemikian itu jugalah Rabbnya mengajarkan buat kita, dan para pelampau batas, betapa demikian jalan pertaubatan mereka pilih, akan mereka dapati betapa Rabb mereka mempunyai sikap Pengampun (Ghafur) dan juga sifat Pencinta (Rahiim). “Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang/Pencinta” (Surah al-Baqarah [2]:192) 

Lalu, pertanyakanlah kepada diri kita, adakah mesej “cinta” ini turut meresap dalam perjuangan dan kehidupan diri kita? Hingga saja ungkapan sinis Hafez Iftiqar[5] begitu terngiang-ngiang di telinga; Malang, manusia hari ini lebih suka permusuhan daripada perdamaian. Saya kagum dengan kesungguhan manusia bermusuh. Kadang-kadang, bermusuhan itu datang lebih dahulu daripada saling mengenali. Saya pasti, permusuhan bukan rahmat Tuhan di dunia, barangkali, itu azab dunia… 

Apakah hati kita ini, sudah kering-kontang daripada perasaan cinta? 

RUJUKAN 

[1]        Surah al-Fatihah [1]:7 

[2]        Surah al-Baqarah [2]:159 

[3]        Rujuk ayat-ayat berikut:- (2:276 kepada para pelaku riba’), (3:32 kepada mereka yang kufr/menolak ketaatan kepada ALLAH dan Rasul-NYA), (3:57 & 3:140 kepada para pelaku zalim), (4:36 & 16:23 kepada para penyombong dan membanggakan diri), (4:107 & 8:58 kepada para pengkhianat dan pendosa), (5:64 kepada orang-orang yang berbuat kerosakan), (6:141 & 7:31 kepada orang yang berlebih-lebihan), dan banyak lagi. 

[4]        “Pesona Sang Nabi” oleh M. Anis Matta, Kolom Thumuhat, Majalah “Tarbawi” Edisi 92 Th. 6/Rejab 1425H/2 September 2004M. 

[5]        Entri “Tentang Keith, Jane, Rudd, Howard, demokrasi, samak dan mamak bendahara (2)”, http://hafeziftiqar.blogspot.com/

About faridul

Engineer di siang hari, murabbi di malam hari, da'ie sepanjang hari
This entry was posted in Serial Pengorbanan. Bookmark the permalink.

One Response to KISAH INI KISAH CINTA

  1. liyana says:

    manusia akhir zaman lupa segaglanya ttg cinta allah dan rasul terhadap umatnya

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s