Review Buku

Ketika Cinta Bertasbih 2

 1225_202519.jpgBagi peminat-peminat novel, khususnya karya-karya Kang Abik, novel “Ketika Cinta Bertasbih 2” yang merupakan kesinambungan sekaligus pelengkap kepada dwilogi pembangun jiwa best seller ini tentunya suatu penantian yang sekian lama anda tunggu -tunggu. Dan penantian anda itu pasti terungkai dengan kelegaan, demikian anda mendengar perkhabaran betapa novel yang dinanti-nantikan itu telah pun terbit, dan lebih menguja dan menggembirakan lagi, sudah pun berlegar di pasaran Malaysia (terima kasih kepada tindakan brilliant Fajar Ilmu Baru Enterprise).

 Berbanding episod pertamanya, menyelami episod 2 ini, anda harus mempersiapkan lebih banyak air mata. Jika di dalam Episodnya yang pertama, paling air mata kita (menurut saya, juga hasil perkongsian dengan rakan-rakan) hanya bisa ditumpahkan demikian membaca surat Ayatul Husna kepada abangnya -siapa lagi jika bukan sang hero Mas Azzam- yang menyampaikan khabar sekaligus permintaan, betapa sang abang sudah tiba masanya untuk pulang. Ya, saya tidak malu untuk menyatakan betapa saya tersentuh membaca surat si Husna kepada Mas Azzam-nya itu, seakan sayalah Azzam dan Husna adalah adik saya. Tapi, untuk Episod ke-2 kali ini, mungkin lebih banyak babak yang bisa menjadikan kelopak mata menjadi mendung, apatah lagi buat mereka yang lembut hatinya. Kali ini mesej kekeluargaan semakin tampak, demikian bersatunya kembali si Azzam dengan keluarganya yang tercinta.

 Berbanding episod pertamanya, menyelami episod 2 ini, anda harus mempersiapkan diri untuk segera menikah, lantaran babak cinta suami-isterinya lebih terselah, hingga terkadang pantas untuk dikategorikan 18SX mungkin. Ini kerana, dikhuatiri anda akan banyak koya (berkhayal) dan zina hati, sedang pada masa yang sama, anda bisa belajar menjadi seorang suami, lelaki dan pencinta sejati.

Persiapkan lebih banyak air mata dan tanggungjawab kekeluargaan: itulah kesimpulan yang bisa saya berikan begitu mengomentari kesudahan dwilogi pambangun jiwa ini.

Juga, saya -seperti kebanyakan orang di luar sana- sangat kepingin dan merindukan andai kiranya sosok-sosok seperti Khairul Azzam, atau Fahri (Ayat-ayat Cinta) dan sosok-sosok “Malaikat” ini bisa hadir di tengah-tengah kita, bersahabat dengan kita, dan bersama-sama membangun jiwa kita. Terus-terang, saya memang pernah saja ketemu sosok-sosok menyenangkan seperti mereka. Jika suatu waktu dahulu saya memandang rendah warga Indonesia, demikian saya kenal sosok-sosok seperti mereka, pantas saya mendapat hero dan role model baru yang sering saya rindui. Demikian saya bersahabat dengan pak Arab -pak Arab dan ustaz-ustaz Indonesia, saya jadi sangat tersentuh dan merindui kerendahan hati mereka, kelembutan budi bahasa mereka, tunjuk ajar penuh keikhlasan dan ketawadhukan mereka, dan lain-lain yang terkadang sulit untuk saya gambarkan.

Maka, maklumi saja kenapa saya seakan menuntut agar para asatiz menghadirkan sosok-sosok ini di tengah-tengah kita. Lantaran saya berkeyakinan, demikian kita bisa menghadirkan sosok-sosok seperti ini, masyarakat ini akan berbondong kembali dekat, rapat dan mesra dengan Islam. Mungkin inilah rahsia kebangkitan Islam di Indonesia, Turki, Palestin dan yang seaktu dengannya.

About faridul

Engineer di siang hari, murabbi di malam hari, da'ie sepanjang hari
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s