Tiada kemerdekaan tanpa harga diri

Tidak ada cereka kemerdekaan, jika tidak di”dalangi” oleh para ulama’ dan dai’e sebagai pejuang pemegang panji. Masakan tidak, mereka, sebagai warisatul anbiya’ tentu lebih maklum betapa kemerdekaan sejati ialah tatkala jiwa dan raga bisa dibebaskan daripada ketergantungan terhadap sesama maklukh; bak kata mutiara Rub’i bin Amir kepada Rustum sang panglima perang Rom“min ibadil ibad ila ibadillahi ta’ala'” (dari penghambaan terhadap sesama manusia kepada pengabdian terhadap ALLAH semata) .

Sejarah telah menjadi saksi, bahkan tercoret erat dengan tinta emas, akan pemahaman mendalam para pejuang Islam, betapa mempertahankan harga diri umat dan diri, justeru adalah puncak segala kemerdekaan. Hingga saja hal keenam yang ingin dipertahankan oleh Islam dengan adanya hukum-hakam yang dipanggil syariah (maqasid syariah) ialah menjaga “iffah” yakni harga diri setiap manusiawi.

Lantas agunglah Islam, meluncur laju dengan harga diri dan jati diri umatnya yang tinggi. Hingga begitu tudung seorang Muslimah di tarik oleh musuh di Barat, sang khalifah menghantar sebatalion tentera memerangi musuh dari Timur. Semuanya terungkap dek rahsia sebenar kemerdekaan: harga diri.

Tetapi tidak kini. Kemana hilangnya para daie pejuang kemerdekaan? Sudah pupuskah ditelan kemewahan dan kilauan keperluan duniawi, atau surut dicengkam sistem dan “kebergantungan” terhadap majikan? Lantas hilanglah suara-suara pembela kemerdekaan. Lantas hilanglah stand dan prinsip perjuangan. Pantas semua situasi menjadi darurat, lantaran cemasnya manusia terhadap majikan, lantaran “kebergantungan” itu kini disandar pada manusia, atau sistem, tidak lagi ALLAH. Hingga bersalam-salaman sang lelaki dan perempuan menjadi kebiasaan. Hingga ikhtilat dan khalwat pria wanita tidak lagi menjadi bahan cegahan. Hingga harga diri saja sanggup diinjak sang majikan, lantas hilanglah langsung jiwa kemerdekaan.

Alahai jiwa, serendah itukah harga dirimu berhadapan dengan rezeki duniawi? Semaklah kembali jiwa merdeka si Yusuf Alaihis salam. Biar ditawar untuk dibebaskan, tetap saja ia “demand”, lantaran tiadalah ertinya pembebasan, andai reputasi dan nama baiknya tidak dibersihkan. Lantaran pembebasan tanpa pelurusan fakta justeru bukan kemerdekaan, tetapi penghinaan. Kerna kemerdekaan sejati adalah bilamana jiwa anda bebas terbang menggapai kenyamanan redha Ilahi. Bukan tatkala harga diri dan maruah diperlekehkan.

“Dan raja berkata; “bawalah dia kepadaku.” Ketika utusan itu datang kepadanya, dia (Yusuf) berkata; “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakan kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan yang telah melukai tangannya. Sungguh, Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.”

Dia (raja) berkata (kepada perempuan-perempuan itu); “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya?” Mereka berkata, “Maha Sempurna ALLAH, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya.” Isteri al-Aziz (konon namanya ZUlaika) berkata; “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya, dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar.”

(Yusuf berkata), “Yang demikian itu agar dia (al-Aziz) mengetahui bahawa aku benar-benar tidak mengkhianatinya ketika dia tidak ada (di rumah), dan bahawa ALLAH tidak meredhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.”

(Surah Yusuf [12]:50-52)

About faridul

Engineer di siang hari, murabbi di malam hari, da'ie sepanjang hari
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s