[serial ukhwah]: When you say nothing at all

[serial ukhwah]: When You Say Nothing at All

It’s amazing how you can speak right to my heart
Without saying a word, you can light up the dark
Try as I may I could never explain
What I hear when you don’t say a thing

The smile on your face lets me know that you need me
There’s a truth in your eyes
Saying you’ll never leave me
The touch of your hand says you’ll catch me whenever I fall
You say it best
When you say nothing at all

-Ronan Keating “When you say nothing at all”-

Ronan Keating seakan menggambarkan kepada kita bagaimana gayanya puncak pemaknaan ukhwah itu. Iaitu apabila dua jiwa tidak hanya berinteraksi lewat komunikasi,  melainkan telah sampai ke makam dua hati yang bisa berhubung, saling memahami, lalu saling melengkapkan. Hingga, terzahirlah impian dan tujuan sebuah “usrah” itu: ta’aruf (saling berkenal-kenalan), tafahhum (saling memahami), dan takaful (saling bertolong-tolongan). Bahkan, makam takaful yang disebut En. Keating ini telah melalui fasa yang lebih gemilang: empati. Di makam ini, pertolongan tidak lagi dihulur begitu diminta, bahkan sudah diberi ketika empunya diri seakan tidak sedar betapa perlunya ia pada pertolongan tersebut.

Pada makam empati ini, mulut terselamat dari meminta. Tangan terhindar daripada menadah. Harga diri terpelihara daripada merintih. Kerana sang saudara, sudah lebih mengerti peri pentingannya sebuah hak ukhuwwah itu. Saling memerhatikan, saling menyempurnakan. Saling mengerti, saling meringankan beban. Biar pertolongan belum dipinta, lirikkan mata, pahit manis senyuman, sudah cukup dimengertikan oleh sang saudaranya. Hingga, tiada tempat untuk Bersamamu TV3, lantaran semua kelengkapan sudah diambil peduli oleh sang saudara. Tanpa dipinta. Ya, tanpa diminta. Kerana pada makam ini, mulut tidak perlu meminta, kerana hati sudah saling berbicara.

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.”

(Surah al-Baqarah [2]:273)

Bukankah itu (antara) hikmahnya disyariatkan solatul jum’ah? Kerana kefardhuan solat Jumaat secara berjemaah itu –menurut Mutawalli Sya’rawi- agar umat saling memerhatikan akan saudara seIslamnya yang lain. Bagaimana halnya, bagaimana keperluannya. Bagaimana kesihatannya, bagaimana keadaannya. Lalu Rumi pun bersenandung riang:

Persahabatan yang dilandasi kesucian

Mengantarmu menjadi seorang dari mereka

Meski engkau ini batu atau pualam

Kau akan menjelma menjadi permata

Jika kau dapat mencapai tingkat manusia perasa

(jalaluddin Rumi, “Matsnawi 1, 721-2”)

Tepat sekali dendangan Ronan Keating: “you say it best…when you say nothing at all!”

Faridul Farhan Abd Wahab  “Tuhanku, perhalusilah kepekaan perasaanku..”

About faridul

Engineer di siang hari, murabbi di malam hari, da'ie sepanjang hari
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s