Kelembutan Yang Syumul

Kelembutan. Itulah ssuatu sifat, yang oleh banyak orang sangat diimpikannya. Tidak mesti pada dirinya sendiri, tetapi sering merindukan sifat itu pada orang lain disekitarnya. Seperti seorang pekerja mengharap secebis kelembutan daripada majikannya, apath lagi di saat ia berada di posisi “pesalah” terhadp hal-ehwal kerjanya. Atau, seorang suami mendambakan kelembutan sang isterinya, di saat-saat sukar lagi sulit yang mengkusut-masaikan relung pemikirannya. Atau, seorang ibu seorang ayah, yang menginginkan kelmbutan layanan daripada anaknya, saat keduanya sudah menginjka usia-usia emas yang berharga.

 

Tidak hairanlah, kelembutan, pada apa pun maknanya, baik itu Rahmah, atau Rifq, atau Hilm, di sebut-sebut sebagai antara sifat para pendakwah oleh Jum’ah Amin Abdul Aziz. Lantaran menyedari betapa lawan kepada kelembutan, kekerasan dan penekanan, bisa menyebabkan manusia lari dari sekelilingmu.

 

“Maka dek kerana rahmat ALLAH, bersikap lemah lembutlah kamu kepada mereka. Jika kamu bersikap kasar lagi berhati keras, nescaya mereka akan menjauhkan diri daripada mu…”

(Surah Ali Imran [3]:159)

Di situlah kalian jumpa kelembutan seorang rasulullah. Sensitiviti seorang Abu Bakr. Malunya seorang Usman al-affan.

 

Di sanalah, pada kelembutan yang menatijahkan sebuah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) pada pelakunya, kalian jumpa seorang Umar al-Khatttab di waktu kekhilafahannya, hingga sering didapati menangis lantaran zuhud dalam menilai dirinya.

 

Atau, kelembutan para tok-guru-tok-guru, yang senantiasa kaya dengan senyuman teduh di wajahnya, hingga bisa meresap masuk ke dalam umat, lalu menadah kitab berhadapan sebagai murid-muridnya.

 

Namun, kelembutan itu tetap pada tempatnya. Ia seakan strategi defensive yang ampuh untuk menarik minat manusia ke arahnya. Namun, sifat offensive tetap perlu guna mengimbangi sekaligus mempertahankan risalah suci ini daripada musuhnya.

 

Maka ada cerita dakwah Rasulullah secara bergusti dengan Abu Rukanah. Atau seorang Abu Bakar yang bercakap serba kasar dengan para petinggi Quraisy di saat perjanjian Hudhaibiyah. Atau ketegasan seorang Ali ketika mempertahankan kalimah ar-Rahman pada tulisan basmalah serta Rasulullah pada perkataan Muhammad.

 

Di sana, jihad menjadi senjata offensive di dalam dakwah, seperti mana kelembutan berperanan sebagai senjata defensive penarik mad’u ke dalam dakwah.

 

Maka seimbangkanlah kelembutan dan ketegasanmu wahai umat, seperti mana seimbangnya para pendahulu kita di arena dakwah.

 

“..mereka (hizbullah) mencintainya, mereka bersikap rendah diri terhadap orang mukmin, tetapi mempunyai harga diri yang tinggi di hadapan orang-orang Kafir…”

(Surah al-maidah [5]:54)

“Muhammad itu Rasulullah. Dan orang-orang yang beriman bersamanya bersikap keras terhadap orang kafir, tetapi saling mengasihi sesama mereka…”

(Surah al-Fath [48]:29)

About faridul

Engineer di siang hari, murabbi di malam hari, da'ie sepanjang hari
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kelembutan Yang Syumul

  1. faridul says:

    Credit tu akhi Adik

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s